Kamis, 15 Desember 2016

Nostalgia Quotes

"The fact that we can always foresee the end is so depressing." -Fluttering Feelings by Ssambasoul.

I befriended the poor soul as I pondered endlessly if there was anyone out there who might return me the favor.

Apparently, kindness never came easy.

I looked at the door to my room, imagining the other door across the hallway. No one else in the world could have felt the same terror and isolation like we did, but then there was that hallway that set us apart --that thin line that prevented people from reaching out for each other.

While you ran away to seek solitude, unintentionally carried away by the world's challenge, I lost the will to wait.

But it did not astonish anyone. We were young and fickle, and reality had not always been kind. I wondered how you managed to bury so much inside, while all you showed the world was yourkiller smile.

We were heading back to all the chaos waiting for us. We just had to, didn't we? To move on, we had to face heart breaks and pain. To be real, we had to be honest for once.

I realized then just how easily people gave hope to others and destroyed it at their conveniences. Without much consideration. Without a heart. As you let your insecurity creep in, I began to pine for the uncertainty in life that had shaped me into who I was today.

You could have been my safest bet, the best woman I'd ever found, and I could have been the youth and excitement you'd forever lost. In a way, were a perfect match, but we could never be content with each other until we were at ease with ourselves.
You started to learn life as it came, and I seemed to know it. I had lived it before.

I looked at their contemplative, dark gaze. "She doesn't love you," they whispered over their champagne. Tears in my eyes I said, "I know."

You weren't the best person for me, and I you. But our path had joined and gone beyond where words could describe, and we both couldn't deny that we were a unique pair.

All of a sudden, I got the nostalgic feeling of lying next to you back when we were still together. We had come a long way, but we were going around in circle.

I quietly puffed and puffed. Tears just wouldn't stop pouring down now. While everyone else was enjoying the gig, only they seemed to notice that my world was falling apart. I let out a bitter chuckle as I rested my head against their shoulder, watching the starry sky. There was no need to exchange words. I didn't have to tell them what had happened, but they knew it. We all knew that love had its own way to make its presence in our life, and that we could not force, or fight it.

I learned later that, just like life itself, everything else that happened between us was spontaneous --as spontaneous as love could be.

Sandiwara Cinta -Repvblik

Mau bilang apa aku pun tak sanggup



kau dengannya
seakan ku tak tahu sandiwara apa yang tlah kau lakukan kepadaku

Untuk apa?
Untuk apa cinta tanpa kejujuran?

Sabtu, 22 Agustus 2015

Posting Pungkasan

Terima kasih untuk 11 tahun bersama, blogspot. Ini tulisan terakhirku di blog ini. Terima kasih sudah menemani belajar menulis. All good things come to an end indeed.

Senin, 25 Mei 2015

Kepada: 2009

Message:
"I wanted you to fight for me
I wanted you to chase after me
But instead you just watched me leave"

Membaca pesan yang kuterima dan aku tersenyum sedih.

Katakanlah padaku sekali lagi, cinta saja itu cukup. Akan kucoba meyakinkan diri, bahkan dalam mimpi akan kuulangi. Bahwa dengan cinta saja aku telah punya segala yang kuimpikan, dari banyak hal yang kuperjuangkan sekian tahun aku hidup.

Katakan bahwa cintaku padamu sudah cukup untuk menghidupi hatiku memintal benang demi benang kehidupan. Hingga aku tak perlu merasa pilu saat di sana kau bisa memeluk orang lain sedang aku sibuk memetakan rasa. Dan aku tak usah tersedu saat memikirkanmu sedang di sana kau memikirkannya.

Katakan padaku ada yang lebih egois dari pada cinta. Katakan bahwa ada yang lebih merusak diri dari keinginan untuk memiliki tanpa kemampuan mengendali diri. Katakanlah bahwa aku duduk di singgasana yang benar, memberikan kekuasaan padamu untuk merajalela mencuri dan sekali lagi mencuri dariku. Curilah cintaku padamu dariku, bawa ia dalam peti agar bisa ikut ke manapun kau pergi. Bawa saja jasad yang tak ingin kulihat lagi.

Oh kekasih, seandainya kau tahu betapa kerasnya aku mencoba. Begitu naif di usia dua lima dan kau dogmakan padaku rasa yang ingin kau rasakan mengenai rasaku padamu. Sedang masing-masing kita memiliki rabun jauh yang beda, bagaimana bisa kau paksakan aku melihat apa yang kau lihat? Kau bilang cinta saja cukup untuk kita, sungguhkah itu cukup untukku?

Kalau toh cintaku saja cukup buatmu, mengapa kau sibuk menghidupi cinta yang lain?

Sebelum aku terjatuh makin dalam, katakan padaku sekali lagi bahwa cinta saja itu cukup. Biar aku meresapi tiap kata yang kau pilih dan aku memang sudah kepalang tanggung. Aku akan menangis untukmu, merenungi permintaanmu yang mustahil, akhirnya aku memutuskan tak mampu. Caramu terlalu sulit untukku.

Katakanlah bahwa aku tak pernah bahkan untuk mencoba berjuang untukmu. Aku takkan pernah membantahmu. Bagaimana bisa aku membantah dengan lidah kelu?

Reply:
"Because, before you, fall in love at the first sight has never felt as good as the first time. I am not your first. You are my sudden."

Jumat, 06 Maret 2015

A Necessary Evil

Jika gol kita untuk nulis blog adalah menjadi populer, maka kita tak mungkin hanya menulis satu bulan sekali.

Itu tugas berat kalau dipangku satu orang saja. Sesungguhnya aku tidak tahu bagaimana kiat untuk mempopulerkan blog, tapi mungkin itu berkaitan dengan menulis rutin, rutin mengunjungi blog-blog lain dan kasih komentar, atau menaruh postingan-postingan yang ilegal macam nge-crack game atau mungkin cara yang lain yang terlewatkan olehku.

Tak terbersit pikiran untuk jadi terkenal. Blog hanyalah tempatku belajar menulis dan merenung. Renungan yang seringkali tak bisa diungkap dengan kata-kata. Yang kadangkala saat membacanya kembali aku sekali lagi tak mengerti apa maksudku sendiri.

Aku cukup muak dengan orang yang menganggapku tahu segalanya. Yang menganggapku bijaksana dan itu membuatnya bisa bersikap seperti anak kecil kepadaku. Aku tak suka anak kecil. Aku tak suka orang yang menuntutku mencintainya apa adanya karena ia merasa bersikap jujur. Aku kadang tak mengerti mengapa orang tak mengerti bahwa manusia itu tak sempurna. Aku juga tak mengerti mengapa aku harus merasa ingin orang lain berbuat tanpa cela.

Sungguhpun mencintai seseorang apa adanya harus punya batas-batas.

Jika gol kita untuk hidup adalah disukai banyak orang, maka kita tak mungkin mengedepankan ego kita di atas orang lain.

Tapi aku tak hidup untuk disukai banyak orang. Dan banyak hal jahat memang mesti dilakukan dalam hidup ini supaya kita tidak menyesal.

Kamis, 12 Februari 2015

Berita Duka di Pagi Hari

"Who would've thought forever can be severed by the sharp knife of a short life?"

Pagi ini aku termangu-mangu, teman seangkatan semasa sekolah meninggal setelah melahirkan anaknya yang ketiga. Perdarahan pasca operasi Caesar karena plasenta akreta. Dada terasa sesak mendengar kabar yang begitu mengejutkan.

Semalam saat mendengar kabar dia kritis di rumah sakit dekat rumah, aku dan Retti langsung berkunjung ke ICUnya. Melihat keadaan sakitnya yang berat, terbersit sesal tentang pemikiran bahwa ia takkan bertahan lama. Sebab orang bilang, supaya doa terkabul ia harus percaya bahwa doanya terkabul. Aku sempat tak percaya.

Kalau aku mesti membandingkan hidup seseorang dengan manfaatnya, aku akan tergelitik untuk melihat manfaatku di depan teman-teman kuliah/kerja. Barangkali temanku yang meninggal ini akan dinilai lebih bermanfaat hidup daripada aku. Temanku ini punya suami, punya tiga anak, punya pekerjaan yang bermanfaat (dia dokter umum UGD di RS BDH Surabaya), aktif berorganisasi, bahasa Inggris casciscus, saat sekolah dia juga punya nilai yang jauh lebih baik dariku.

Apakah yang demikian itu bisa menjadi tolak ukur ataukah memang demikian itu benar menjadi tolak ukur bagi Tuhan untuk menunjukkan kebesaranNya?

"Gather up your tears, keep 'em in your pocket
Save 'em for a time when you're really gonna need 'em, oh
oh well
I've had just enough time"

Saat memikirkan posisi temanku ini dengan posisi ibuku (dengan plasenta previa) lebih dari tiga puluh tahun lalu, sudah pasti ia dan ibuku siap memperjuangkan anaknya sampai titik darah penghabisan. Bagaimana Tuhan menentukan tiga puluh tahun lalu ibu dan anak selamat, dan tiga puluh tahun kemudian dengan alat medis dan ilmu kedokteran yang lebih baik tak bisa menyambung nyawa seorang dokter di meja operasi adalah misteri yang tidak akan pernah dapat dipecahkan. Garis hidup tidak ditulis kita sendiri, namun kita diberikan kebebasan untuk memilih, dua hal ini tentu kontradiktif namun aku percaya itu karena kebesaran Tuhan: Tuhan dapat bercampur tangan dalam urusan kita tanpa kita tahu/sadari/mengerti.

Begitu perkasanya Tuhan.

Mungkin karena meninggalnya temanku ini bisa menjadi pembelajaran yang baik buatku dan orang lain, manfaat ini punya keutamaan yang mengalahkan seluruh manfaat yang kusebut di atas dalam hidupnya, sehingga mungkin kelebihan manfaatku dari temanku ini adalah karena aku pelajar. Aku harus diingatkan bahwa kematian itu sesungguhnya begitu dekat denganku. Dan betapa cepat seseorang yang sebelumnya begitu dekat dengan kita berubah menjadi masa lalu, menjadi hal yang paling jauh dari kita.

Akhirnya aku menghapus airmata dan yakin, menurut keyakinan temanku ini hari Jumat adalah hari yang baik dan temanku ini meninggal dalam syahid. Aku yakin bahwasanya tempat yang terbaik untuknya saat ini adalah surga.

Godspeed, my dear friend. See you on the other side.

Rabu, 14 Januari 2015

HP Baru Hening

"Januari, Januari yang biru
Asmaramu, asmaraku membisu."

Bukan sekali saja antara aku dan Hening mengalami pasang-surut percintaan. Kalau sudah kesulitan mencari jalan keluar, biasanya  kami memberi jarak. Memberi waktu sendiri. Biasanya yang lebih memiliki emosi negatif adalah aku. Bersungut-sungut dan marah.

Malam itu juga. Perang pecah antara aku dan Hening saat dia pulang ke rumah seperti biasa di Jumat sore, tiba-tiba dia sudah memiliki sebuah handphone (HP) android terbaru.
Seingatku kami sedang berhemat untuk membayar perbaikan rumah yang ingin kami alihkan menjadi perpustakaan. Tentu kehadiran gadget barunya membuat keningku berkerut. Apalagi melihat gelagatnya yang mencurigakan ketika aku masuk kamar, di atas tempat tidur dia sedang asik membaca sesuatu dari HP barunya lalu buru-buru mengetuk lembut layar saat melihatku masuk, kecurigaanku menjadi semakin runcing tatkala dia menjauhkan layar dari jarak bacaku.

"Itu HP siapa?"
"HP-ku lah, tadi aku beli di WTC."
"Lho, kan kita lagi banyak pengeluaran yang lebih penting. HP lamamu mana?"
"Tadi BBku rusak kena hujan."
"Kan masih ada yang satunya."
"Satunya gak bisa buat BBM-an."
"Lha terus, itu beli berapa?"
Hening menyebutkan rupiah yang bisa membuat kami punya kanopi baru untuk perbaikan rumah.
Aku mendengus kesal.
"Aku gak beli pake uang tabungan, kok," Hening menenangkanku.
"Terus, pake uang apa?"
"Dibelikan. Cuma tongsis dan pelindung HP ini yang beli sendiri."
Aku meliriknya. "Dibelikan siapa?"
Hening tersenyum simpul. "Rahasia," dia menjawab dengan jawaban yang jadi kata favoritku untuk menggodanya. Sayangnya aku sedang tidak mood digoda.

Aku kembali diam dan memperhatikannya mengutak-atik HP baru. Karena lama-lama aku bosan, akhirnya aku keluar dari kamar dan membaca koran di ruang tamu. Suara notifikasi BBM Hening yang berulang-ulang menggema dari dalam kamar membuatku ingin melihat notifikasi milikku sendiri, HP kuletakkan terbalik sebelumnya karena aku tidak mau terganggu oleh notifikasi yang muncul di layar saat sedang membaca.

Saat kuperiksa pembaruan pada BBM, status yang saling menimpali antara Hening dan seorang teman membuat kerutan di keningku semakin dalam. Apa-apaan ini? Batinku.
Di saat yang sama, Hening ke luar dari kamar dan berjalan menuju kamar mandi. Segera kumanfaatkan kesempatan ini untuk mencari bukti kecurigaanku melalui HP baru Hening.
Hambatan pertama kulalui dengan sukses, password di BB lamanya tetap dia gunakan untuk HP baru ini. Tantangan selanjutnya adalah di mana dia meletakkan BBM. Aku tidak pernah punya HP android, butuh waktu untuk menyesuaikan diri tapi aku tidak punya waktu untuk menyesuaikan diri. Aku harus tahu apa yang Hening dan teman kami bicarakan, dan kenapa demikian mencurigakan. Kusentuh gambar berbentuk rumah beratap dan HP Hening layarnya tak bergeming. Kusentuh lagi, tetap tak bereaksi. Kusentuh icon lain yang tampak di layar, yang muncul malah membuatku bingung. Kusentuh yang lain yang keluar malah video.

"Sayang?" Hening mengagetkanku. Wajahku pasi bagai anak kecil yang tertangkap basah sedang mencuri kue dalam toples. Hening terdiam di pintu.
"Kamu ngobrol apa sama Niken?" Tanyaku sambil meletakkan HP Hening yang baru.
Hening membisu, diraihnya HP supaya jauh dari jangkauanku. Bibirnya memaksakan senyum. "Sayang lagi PMS, ya? Kok hari ini moodnya jelek banget?" Hening mengalihkan topik dengan usaha yang aneh. Tentu saja aku semakin ngamuk.
"PMS? Kamu ngomong apa, sih, kok mendadak ada sangkut pautnya sama PMS? Nggak lucu, tau." Kerutan di keningku mungkin sudah menembus ke dalam otak, karena menahan amarah. Rasa capek setelah kerja ditambah gerak-gerik Hening yang mencurigakan hari ini membuat kepalaku mendadak nyeri.
"Aku ngobrol sama Niken tentang Bali. Kamu tahu kan kalau Niken pernah tinggal di Bali, jadi aku nanya-nanya," jawab Hening.
Dan aku tahu kalau mantanmu juga pernah tinggal di Bali dan pernah membelikanmu HP, tambahku dalam hati. "Emang kenapa dengan Bali?" Kejarku.
Hening menatapku. "Kalau aku bilang rahasia, kamu pasti marah...lho, yang, kamu mau ke mana? Aku belum selesai ngomong, nih..."

Aku tidak mempedulikannya. Aku benar-benar marah dan tak sudi mendengar penjelasannya. Kubanting pintu dan segera berjalan ke luar dari rumah. Mendadak satu atap dengannya menjadi begitu menyiksaku. Perempuan yang sudah sekian lama bersamaku mendadak menyimpan rahasia dengan terang-terangan. Apa yang ingin dia lakukan dengan rahasia itu? Apakah tahunan yang kami bagi sudah menunjukkan jalan buntu? Atau dia sudah kelelahan menekuni setapak yang tak jua mengarah pada kepastian? Tuhan tolong...

Aku tak tahu sudah berapa lama melangkah, tapi jalanan ini kuhapal betul. Di pojok sana ada rumah mungil dan tua milik sepasang suami-istri yang tinggal bersama cucu laki-lakinya. Mereka keluarga minoritas di kampung kami. Sang istri pernah membantu ibuku merawat bapak semasa beliau masih hidup. Mantan suster yang dulu membantu sebuah rumah sakit di kota, aku tidak tahu bagaimana ceritanya dia memiliki suami dan anak. Anak dan istri anaknya meninggal dalam sebuah kecelakaan, hanya tersisa satu cucu laki-laki yang mereka besarkan dengan penuh cinta.
Pintu rumah pojokan itu terbuka, seorang perempuan duduk bercengkerama dengan tetangga yang kebetulan lewat. Dia mengenaliku dan memaksaku mampir karena rindu. Atau karena butuh teman untuk melewatkan waktu menunggu cucu laki-lakinya pulang.

"Masuk, non. Ya ampun.. udah gede, ya, sekarang. Tambah cantik," katanya memuji.
Mau tak mau aku menyunggingkan senyum. Karena: satu, masih ada rasa terima kasih yang tak mungkin terbayar kepada perempuan ini dan, dua, kebetulan aku sangat menyukai teh buatannya, senang rasanya bisa mencicipinya kembali. Tak mengapalah aku bertamu sebentar, meski perasaan sedang lebam.
"Sekarang kerja di mana?" Tanyanya setelah menyajikan teh kebanggaannya. Aku menjawab pertanyaannya sambil buru-buru meminum teh paling enak sedunia itu. Kalau beruntung, aku bisa nambah tiga atau empat gelas lagi.
"Wah, sudah sukses, ya, sekarang?"
Aku tersenyum kecut. Pekerjaan ada tapi ada mimpi yang mesti dihidupi juga. Mimpi ini cukup MANTAP, kepanjangan MANTAP adalah meMAkaN TABungan. Dipaksa dikit lah singkatannya. Jadi suksesnya masih tertunda. Demi mimpi.

Perempuan itu bercerita tentang masa lalu. Cerita yang sudah kutahu. Sesekali kualihkan pandangan untuk mengamati pernak-pernik yang ada dalam rumahnya. Pohon natal yang masih terpajang, timba yang diletakkan di tengah ruang tamu untuk menampung air hujan, terisi sebagian oleh hujan tadi pagi dan aku yakin perempuan ini sedang menunggu cucunya untuk membantunya membuang isi timba.

Lama kemudian, cucu laki-laki perempuan itu akhirnya menampakkan batang hidungnya. Kudengarkan bagaimana dia menegur cucunya dengan penuh kasih karena pulang terlalu malam. Aku tersenyum dan teringat bapak. Lalu teringat Hening. Apa Hening juga sedang menungguku pulang dengan cemas?

Aku meraba saku celana dan bersyukur punya kebiasaan mengantongi uang dalam jumlah cukup. Persiapan supaya tidak kebingungan kalau suatu saat lupa membawa dompet. Aku ingat bahwa Hening dan aku sedang berhemat, tapi bila Hening boleh mengeluarkan uang untuk membeli tongsis dan pelindung HP barunya, kenapa aku tidak boleh mengeluarkan uang untuk tujuan yang mulia? Aku beranjak pamit dan menyisipkan sejumlah uang ke tangan perempuan itu. Terima kasih untuk teh yang sejuta kali lebih hangat dari teh botol favoritku. Suara Andi Meriem Mattalatta yang menyenandungkan Januari yang Biru semakin lamat-lamat di telingaku saat berjalan menjauhi rumah pojok. Aku pulang dan bersiap menghadapi tiap kemungkinan yang bisa terjadi antara aku dan Hening.

Rumah begitu sunyi saat aku kembali. Dalam kegelapan kulihat Hening tertidur di sofa ruang tamu. Aku masuk tanpa suara. Setidaknya aku berusaha begitu. Tapi Hening lebih hening dariku, lampu mendadak menyala dan dia sudah berdiri di belakangku.

Dia meletakkan HP barunya, kini layarnya dalam jarak bacaku. Kubaca banner bertulis SepociKopi dalam Google Chrome di HP barunya.
"HP ini dibelikan bosku untuk hadiah akhir tahun. Semua staff juga diberi," Hening membuka pembicaraan. "Kamu ingat kamu pernah bilang pingin liburan kayak salah satu penulis dalam SepociKopi di Bali?" Hening menatapku. Keletihan dapat kubaca di wajahnya.
Aku mengangguk. Aku juga ingat kalau penulis itu sekarang naik pangkat jadi pemimpin redaksi SepociKopi.
"Kamu juga ingat kalau kamu pingin ngerasain liburan ala 'Glamping'?"
Aku mengangguk lagi mendengar pertanyaan Hening.
"Niken dapat diskonan dari koleganya yang masih di Bali. Dan dia menawarkannya padaku. Untuk hadiah buat kamu, kamu tahu kan kalau Niken itu selalu ndengerin apa yang kamu omongin? Termasuk keinginanmu untuk liburan ke sini, ke sana, ke mana-mana. Aku harus membagi duitku jadi lima tiap bulan untuk: pertama, kalau kamu mendadak ngidam makanan yang aneh-aneh dan nggak murah..." Aku mendengar ceramah keuangan Hening dengan takjub. Itu bukan kali pertama aku mendengar ceramah keuangannya, tapi ini untuk pertama kalinya kudengar dia dengan terang-terangan mengatakan menabung untuk menyenangkanku. Aku menunggunya menyelesaikan unek-unek yang terpendam.
"Dan kita baru bisa liburan 2017, aku gak bisa ambil diskonan Niken. Tabunganku kurang," pungkas Hening.
"Oke."
"Oke?" Hening heran. Biasanya aku tak sabaran. Kalau mau liburan, ya, ayuk liburan, gak usah nunggu-nunggu, keburu mati.
"Jadi gapapa 2017?"
"Iya, gapapa." Aku mengambil HP baru Hening. Tersenyum pada tulisan dalam layar. Kudengar Hening mendengus lega.
"Tahu enggak, SepociKopi ultah ke delapan tahun ini," kata Hening saat ikut menatap layar.
Aku sudah tahu, kataku dalam hati, aku mengikuti SepociKopi sejak tahun pertama sampai bertahun-tahun kemudian. SepociKopi pernah memuat surat-suratku dan menjadi teman di masa sulit yang pernah kualami. Menjadi sumber ide bacaan, juga laksana tepukan lembut pada bahu untuk mengingatkan agar berjalan terus menuju masa depan.
"SepociKopi itu berawal dari pasangan lesbian, lho, yang. Seperti kita," Hening memberikan informasi yang tak tercatat di tulisan dalam 'Sejarah Kami'.
"Kalau kubilang gak ada pasangan yang seperti pasangan pendiri SepociKopi itu, apa kamu percaya, yang?" Tanyaku sambil mengulum senyum. Tuhan menciptakan satu ide yang unik di kepala tiap manusia. Ide itu bisa beranak-pinak atau mati. Ide itu unik dan terjaga di kepala Alex dan Lakhsmi.
Hening menatapku tak mengerti. Aku juga tak mengerti apa yang baru saja terpercik dalam pikiranku. Hal itu tak menggangguku. Yang lebih mengganggu adalah suara Andi Meriem Mattalatta yang samar-samar kudengar kembali dengan misterius.

"Januari, Januari yang biru
Asmaramu, asmaraku membisu."

Aku tersenyum dalam pelukan Hening. Januari adalah kali pertama aku mengenal SepociKopi. Januari adalah kali pertama aku dan Hening kembali bertemu setelah berpisah untuk sementara. Ada begitu banyak kisah di Bulan Januari. Dalam hati aku berjanji, akan membuat Januari-Januari berikutnya menjadi biru yang menghangatkan banyak hati, seperti yang telah diberikan SepociKopi.

Selamat ulang tahun SepociKopi. Selamat bertugas dewan redaksi yang baru.

Selasa, 09 Desember 2014

Kepada Penutur Gelisah

Ini airmata bukan buat cinta

Kuulurkan tangan buat gadis yang tak bisa memaknai sendiri
Dan aku tak ingin berharap kau membalas rasa yang berusaha kuredam
Aku tak ingin berharap apapun kepada siapapun kamu

Sebab aku tak sabar untuk mencintai orang yang mencintaiku
Bukankah September sudah berlalu?
Kusadari janji cumalah pemanis mimpi

Ini airmata bukan buat cinta
Terlebih, bukan untukmu

Pantai Hutan Bakau

Hari ini aku datang padanya. 

Setelah perjalanan malam di udara. Aku merindunya.
"I thought you were asleep"
"I tried to...but then I kept seeing you and her together"
Aku tidak bisa menjawab apa-apa dan hanya menciumnya. Sering dia membuatku hilang kata-kata. Kadang kami hidup di dunia di mana kata-kata tidak pernah ada. Semua hanya bahasa tubuh dan tulisan. Bibir hanya untuk mencium dan memagut.

Apa benar ini mimpi yang jadi nyata?

Apakah pagi nanti aku bangun dalam rumah impiannya di pinggir pantai?

Laut. Biru. Ksatriaku.
Yang sibuk menyisir pasir. Dan aku memandang seolah tak mengenalnya, dengan keingintahuan yang besar. Rambut legam yang dipermainkan angin, yang menitiskan embun segara.

Lengkap dengan kemeja putih, dia acuh menantang matahari yang membakar kulit. Buih-buih bertabrakan pada karang dan kaki telanjang. Aku seperti terbius, menuruti jengkal demi jengkal keinginannya menyisir.

Tapi aku ingin berlari kembali. Aku tak pernah begitu mencintai laut. Tidak pula pada refleksi langit. Tidak pada senja dan matahari terbit.

Angin laut hanya membawa kabar duka. Berita kepergian yang dinyanyikan burung-burung dari satu musim untuk mengejar musim yang sama.

Musimku sudah hilang.

Dan aku penat dalam selimut musim baru yang asing. Musim yang hanya membuatku ingin menutup pintu dan selamanya tertidur dalam hutanku. I'm always sleeping in my forest of thorn. Sampai suatu hari tiba musim laut dan pintuku mendadak terbuka. Seseorang memaksa masuk dan aku tidak berdaya. Dia.

Badai laut membahana. Angin menyusupkan warta yang tak ingin kudengar, kisah yang ingin kulupa.

Kususuri jejaknya kemudian, supaya angin membunuh diriku yang mencintainya.




Untuk: M

Kamis, 06 November 2014

Whaddaya Want From Me?

Untuk kesekian kali aku dibuat jengkel oleh mantan gebetan.

Bukan kejadian baru-baru ini ataupun di tahun ini, sih, tapi baru punya mood untuk nulis tentang hal itu sekarang. Aku orang yang rentan terhadap cinta bertepuk sebelah tangan. Tiga kali jatuh cinta pada pandangan pertama, tiga kali itu pula cintaku bertepuk sebelah tangan. Cintaku tak terbalas. Tapi dari tiga orang itu, Andin yang paling membuat hatiku semrawut karena hubungan dan penyelesaian yang sama-sama tidak jelasnya.

Aku pernah membaca tulisan Ayu Utami tentang sahabat yang tiba-tiba melamar bercinta. Walaupun tidak pernah terjadi padaku, aku sudah menyiapkan diri bila itu terjadi.

Persiapanku terbukti nol besar saat Andin yang menawari. Menggoda iman. Memang aku sangat tertarik dengannya dan dia bisa dengan cerdas memutar-mutar logika hingga sampai ke tujuannya. Penuh antisipasi, kalau aku nggak boleh bilang cemas antisipatoar. Khas orang berpendidikan, alasan harus dibangun sedemikian rupa sehingga nampak masuk akal. Dan dalam hal perasaan tidak ada text book untuk dijadikan acuan. Benar atau salah tergantung sudut pandang.

Dan rupanya penolakanku tahun lalu sudah final baginya. Gak ada lagi kamu dan aku. It's all ending. It's all over. Finished. Tamat. Fin. Anehnya justru aku yang gigit jari. Kalau boleh kuungkapkan lewat video klip mungkin Wrecking Ball paling pas, aku akan menghancur-hancurkan dinding dengan frustrasi. Aku juga tidak mengerti, ini pasti kutukan orang Aries, yang hatinya sanggup mencintai banyak orang sekaligus.

Dia pernah protes kalau alasanku memilih setia karena aku berkomitmen demikian. Protes karena partner gak layak mendapatkannya. Saat itu memang partner masih terikat pernikahan, Andin juga menikah. "Persetan dengan proses perceraian, saat itu partnermu masih nikah," demikian ungkitnya, "Jadi kenapa kamu tak bisa menolerir situasiku?"

Aku merasa dipermainkan. Andin pernah bilang bahwa tak bisa memberiku cinta, waktu maupun status. Aku bukan pengemis, detik itu juga aku memutuskan kami selesai. Tapi aku memang tidak bisa mengelak kalau dia sangat menarik bagiku. Berakhir menjadi hubungan tarik-ulur, partner sampai melotot karena was-was dengan hubunganku dengan Andin.

Andin selalu merasa aku tidak adil. Bahwa aku lebih mencintai partner bahkan saat kami dekat (saat itu aku sama partner putus dan Andin belum nikah). Andin bilang dia mencintaiku seperti aku mencintainya dan bisa berkomitmen. Berulang kali kubilang kalau aku tidak berminat jadi orang ketiga dalam perkawinan seseorang, bahwa aku memilihnya ketimbang menunggu partner yang berarti mengharapkan perceraian seseorang. Kalau setelah aku menganggap hubunganku dengannya selesai lalu partner datang padaku dengan berita rencana perceraian kemudian aku memilih kembali pada partner sedang Andin menikah, ya apa aku bersikap tidak adil?

Justru aku lebih layak menyangsikan perasaannya padaku. Tak lama setelah kami selesai, dia sudah meniduri sahabatnya sendiri, yang juga temanku.

Tidak akan pernah berimbang, sampai saat ini aku pikir aku lebih besar menggunakan perasaanku bila berhadapan dengan dia, dan dia membiakkan keuntungan bagi kenikmatannya. Aku takkan menyangkal perasaanku padanya, kekecewaanku yang besar, tapi aku juga punya prinsip. Bukan masalah berbagi istri atau tidak mau menjadi nomor dua. Bukan pula tak ingin bahagia. Aku menghormati perkawinan, tiap kali tertarik dengan istri orang aku membayangkan ada orang lain yang akan sama patah hatinya seperti hatiku dalam Andin: ada lelaki setia yang hancur hidupnya. Apakah mereka yang sudah bersumpah di depan Tuhannya untuk saling setia dan cinta, yang ternyata mempunyai belahan jiwa lain selain orang yang bersumpah bersamanya, benar-benar dapat dipegang komitmennya?

Untuk apa percaya pada apa yang bisa patah dan mati?

Jumat, 31 Oktober 2014

Di Bawah Telapak Kaki Ibu

Tiga puluh tahun lalu, aku lahir karena Ibuku menginginkanku.

Satu malam lalu, seorang teman bercerita tentang anak dua belas tahunnya yang dua kali sudah berusaha ia gugurkan tapi tak berhasil.

Tahun lalu seseorang yang pernah penting bagiku, yang memutuskan untuk menikah, kehilangan bayi pertamanya dalam kandungan setelah beberapa tahun pernikahan tak menginginkan anak. Kabar itu membuatku terpekur, menyadari betapa rentannya ia mengalami depresi, tapi memutuskan dalam hati bahwa aku bukan orang yang tepat untuk menemaninya melewati masa sulit itu.

Beberapa tahun lalu, seorang teman dari mantan menghubungiku. Bertanya padaku, bisakah membantu menggugurkan kandungannya?

Aku meletakkan handphone dan menghembus napas yang tak sadar telah kutahan. Ada berbenih-benih kesedihan, tumbuh merambat hingga menjebol bendungan air mataku. Pesan yang kuterima beberapa hari kemudian di beberapa tahun lalu juga menghancurkan hati. Keinginannya tercapai sudah.

Aku anak perempuan kesekian dari sepasang suami istri yang punya perbedaan usia sebelas tahun, yang berkembang lebih ke arah Bapak daripada Ibu. Kehilangan Bapak seperti gempa yang memorak-porandakan berbagai pondasi. Termasuk pondasi penghormatanku terhadap Ibu. Aku memang jarang sepakat dengan Ibu. Bisa dibilang durhaka.

Aku nyaris menyesali keputusan Ibu untuk mempertahankanku dalam kandungannya.

Seumur hidupku, aku melihat Ibuku hanya melihat kakak laki-lakiku. Seperti Ibu Jawa kebanyakan. Kakak laki-laki satu-satunya yang digadang-gadang menjadi tempatnya manamatkan hari tua. Kecemburuan tak pernah begitu dahsyat sebelum Bapak berpulang. Saat ini, aku sudah hampir lulus dan bekerja dengan gaji yang berlebih bila kupakai sendiri. Ibuku bilang aku akan jadi tulang punggung pengganti Bapak, sementara Ibu sibuk menyapih kakak laki-lakiku dari mimpi-mimpi ideal.

Aku nyaris berpikir bahwa aku lebih baik kehilangan Ibu daripada Bapak, hatiku hancur oleh bayangan Bapak kehilangan perempuan separuh jiwanya.

Lalu aku menapaktilas kembali perjalanan. Betapa aku lahir karena Ibuku menginginkanku. Menginginkanku sampai pada kadar nyawanya tak lagi penting, meskipun dengan bumbu mengira aku bakal jadi anak laki-laki, perdarahan demi perdarahan terjadi pada trimester akhir yang membuat dokter mempertimbangkan untuk mengorbankanku daripada Ibuku demi menekan jumlah kematian Ibu.

Apakah penting mencari tahu alasan seseorang mempertahankan hidup orang lain?

Kalaulah seseorang berterima kasih padaku karena menyelamatkan nyawanya saat dia tenggelam di laut bila pekerjaanku penjaga pantai, apakah ia berterima kasih pada pekerjaanku ataukah ia berterima kasih karena aku memang benar-benar mau menyelamatkan nyawanya?

Kalaulah seseorang berterima kasih padaku karena menyelamatkan nyawanya saat dia sakit bila pekerjaanku dokter, apakah ia berterima kasih pada pekerjaanku ataukah ia berterima kasih karena aku memang benar-benar ingin menyelamatkan nyawanya?

Apakah penting mencari tahu alasan seseorang mengambil nyawa orang lain?

Mengapa dokter lebih memilih mempertahankan Ibu? Karena Ibu bisa memiliki anak lagi? Apa aku semudah itu terganti? Bagaimana orang bisa tahu bahwa  tiga puluh tahun kemudian anak yang akan dikorbankan itu menjadi sandaran letih, menjadi satu orang kebanggaan, menjadi satu mercusuar bagi orang lain?

"Sorry, is all that you can't say
years gone by and still words don't come easily

I love you is all that you can't say
years gone by and still words don't come easily"*

Di saat seperti ini aku ingin mencium kaki Ibuku, ingin menangis dalam pelukannya dan mengucapkan maaf. Meski hanya ingin. Mungkin karena di bawah telapak kaki Ibuku ada surga. Mungkin sebagai rasa terima kasih sudah memutuskan untuk berjuang bersamaku saat kehamilan dan persalinan tiga puluh tahun lalu. Aku mungkin ingin memeluk Ibu karena telah tiga satu tahun ini mencintaiku apa adanya, membiarkanku mencintainya dengan bersikap apa adanya, membiarkanku tumbuh dan belajar mencerna apa yang ada. Aku mungkin ingin memeluk Ibu karena sudah memberiku kesempatan, untuk mengarungi dunia lebih luas dari kakak laki-lakiku. Melangkah setapak demi setapak dalam dunia yang tak sempurna. Atau mungkin aku memeluk Ibuku untuk alasan yang tak ingin kuketahui karena aku hanya ingin memeluk Ibuku.

"I don't know but I believe that some things are meant to be
and that you make a better me"*

Bahwa sekalipun aku hanya melihatnya melihat kakak laki-lakiku, aku tahu pasti, Ibuku 'melihatku' dengan inderanya yang lain.


*Lirik lagu yang dipopulerkan oleh Boyzone

Jumat, 04 Juli 2014

World Cup 2014

On 2010, I was angry and resentful, Italy had been knocked out of the World Cup.

And the nightmare is still going on in 2014. God!

The fact that I love this country more than the football game does help much. Italy is a beautiful country; her buildings, her cities, her como, her mysteries. You can read in the book history about plague and the haunted island. They have stunning seaside towns perched over the cobalt blue Mediterranean. They still have the cobblestone street from Roman time. Feel the romance while you ride a Gondola with your partner. I just love Italy.

I'd like to go there with Heningswara someday.

Jumat, 30 Mei 2014

A Pirate's Heart mini review

I've just finished A Pirate's Heart by Catherine Friend.

OMG, I looove the story so much.

There were two love stories. In 1700's, Captain Tommy saved Rebekah Brown from the sea. Trying to escape from the Captain's ship twice but failed, Rebekah find herself falling hard for Tommy. Could the Jamaican slave win Tommy's heart? While far in the future, there is a librarian tries to find Tommy's map. A private investigator decodes Tommy's map and boom, a treasure hunt has just begun.

I really love the happy ending for both love stories. I can't predict how the treasure kept hidden, it's a funny way to click the key to the lock (the hidden island, I mean) but I waste no breathe to complain.

Favorite quotes: dum spero spiro.

Oh, I must to add, this is a lesbian novel. Sorry, boys.

Sorry

I'm sorry for the late up date. It's not that I will write any worthy up date. I'm just telling you that starting from last month I have a very tight schedule because I wish to graduate next year.

That will affect my productivity, too, to write this blog I mean.

Okay, see you on the next up date.

Minggu, 23 Maret 2014

Glee 5, Brittana Endgame? And BFF?

Because I hate the new (NY) Santana, I don't watch Glee as much as I did. But the 100th episode promotion told me there would be Brittana.

Yeah. but still, I don't like it.

I'd rather see Arizona and Callie's struggle than Brittana. Or Bo and Lauren's.

There is a funny news from the newspaper, in Michigan 300 gay/lesbian couple marital state are unclear. The government stopped the gay married after allowing it for just, one day? Or less.

Damn shit, you are.

Do you remember that I wrote about BFF? My ex BFF (I don't really like this term) mesagged me that her mom was wheeled into my city's hospital ER. She asked if I was free, and I said yes, I was and if she needed me, I'd come to help.

The next day, knowing that her mom was in Intermediate care, I came to the hospital in a rush after attending a morning report. Alfin wasn't there. I talked to her big sister and her mom, grateful that she was in a good condition after hemodialysis procedure. I waited an hour or more and then we met.

I had no fucking idea that she was pregnant. Her second child.

She asked me, when will I follow her, being married and pregnant. She knew my orientation, we had kissed in the past and now she's asking me to marry a man and get pregnant?

Hey, n1n, when will you become a straight one?

Straight my ass.
I wondered why I came this far, keeping a BFF term for her but from the day we had started to know each other up until now I didn't think she understand me.

In a mild sarcasm I told her that it I do not want to follow her path. She told me, you never change. So I told her that I didn't understand why she had texted me last year and telling me that I'm changed if right now she told me that I'm still the same person she used to know. Why she'd texted me that, and the fact it was her who had changed.

She couldn't answer me. I was so disapointed, I felt that I'd rather never had this conversation and let her judge me as she wish.

After parting, she texted me that I never change. I didn't reply it. I said to myself, people didn't change. They evolved.

But I don't think she'll understand it.

Sabtu, 01 Maret 2014

Yang Malam Mingguan Sama Pacarnya Kudoain Putus...

Demikian, serangan umum satu Maret kukerahkan pada seluruh khalayak yang berpacaran malam Minggu ini.

I have a blue Saturday night, it means today. No partner and no friends. Erna is busy, went back to her hometown to prepare her wedding ceremony. Nick is busy, she's getting close with her fellow worker. Heningswara is out somewhere. I was thinking about go to the cinema alone but, the rain made me stay at home. Alone. So, I'm updating my gadgets and during the heavy rain the wi-fi works slowly.

So, I'm wandering around, in the internet I mean.
There's no good fan fiction I found to read, so I'm just surfing from blog to blog. Damn, I'm craving for some rum raisin ice cream and only find Teh Botol in my refrigerator.

I should've read my textbooks, but I'm in a very bad mood.

Although it's raining but the temperature in my house rises, my elementary school friend messages me via Facebook and I'm only replying her with one or two words. Cool? Nop. I feel sorry for her, she is just a nice friend that said hello but instead of getting a nice and warm reply, she only got my tantrums. Yeah, and she's asking about my father whereabouts. I said, daddy's gone.

I'm thinking about writing this blog in English from now. I know I'm not good in using this language, but I'd like to learn and be more friendly to the non-Indonesian speaker.

Back to my elementary school friend, she told me that my ex now's a policeman. He moved from his old house (I knew it years ago, when I passed his house and found the building he used to live had already gone), and she asked me if I know something about him.

A couple years ago, he contacted me in sudden, asked me if I'm home. He took me out to the cinema and we're watching a weird movie about a killer from the orphanage (I don't really remember about the plot). After we went out, he texted me, about I'm being his first love, etc. Frankly, I don't even remember being in love with him. I knew him long ago, before I knew what is love, and I feel safe with him. He was a good man, and I don't want to hurt his pride. So, I said no and asked him not to waste his time (on me). I don't want to share this story with other friend who knows him, it's between me and him. But he never mentioned about joining an army or other that time.

I'm getting used to attending my exs's wedding day. I'm not surprised if one day the policeman asked me to come to his.

So, a sudden idea bursts in my mind, how about we're making a reunion. This isn't a fresh idea, me and some fellow alumni talked about it when we're attending our teacher's death ceremony. This is a very heavy duty, since we got no yearbook and even though we had, some friends might be moved from their old addresses. Yeah, may be we would had difficulties, but I'd like to put it in my agenda for the next year.

Ok, I think I had enough babbling.

Kamis, 06 Februari 2014

She Came at Dawn

I'm a fanfiction reader and a fan of an author "Damn Unique" whom wrote this beautiful novel. Just when I read the first chapter, I fell in love with the story and followed it.

I never believe in love at the first sight. And there are so much things I don't believe in, some because I've never known about 'em. But this novel enlighten me to feel the existence of things I've never known or felt. It was like a map to the unknown city, it was one of many faces of love. It had the same two sides, its ruthlessness and its beauty.

Lets meet Melissa, the it girl with a perfect boyfriend. She had the world under her palm of her hand, so boring, no wonder she'd toss it for a mysterious raven-haired Ducati rider. But there was a problem. And a bigger problem. It was a woman and she was her best friend's girlfriend.

Long time ago, mom told me that I shouldn't bother about love. I think every mom of every girl said the same thing, too, and so did Melissa's mom. She ought to stick to a man that surely deserves her, but Melissa thinks Laila do. Read this book, join them in the joyride of love and prove that mommy lied.

Aku penggemar fanfiksi, seorang penulis favoritku membukukan buku She Came at Dawn setelah menuliskannya secara bertahap dan melakukan beberapa koreksi. Sebenarnya, fanfiksi bisa menjadi karya yang berdiri sendiri, mungkin yang punya ragam alternate universepunya kans paling besar untuk itu. Sebab bacaan bagus tetaplah bacaan bagus, banyak sekali penulis fanfiksi yang punya potensi besar untuk menjadi penulis lepas.

Katja Michael menulis She Came at Dawn (SCaD) tahun 2013, mewarnai kancah fiksi lesbian.

Banyak orang tak percaya cinta pada pandangan pertama, pun aku meski sudah mengalaminya dua kali. Katja mengambil tema ini pada tulisannya dan berhasil membuatku tersenyum-senyum sendiri, mengingat masa aku jatuh cinta pada pandangan pertama.

Di dunia ini segala sesuatu punya dua sisi, cinta tak menjadi pengecualian, sisi kejam dan sisi indah. Sering kali kita melihat sisi kejam cinta sebagai keindahan tersendiri atau sebagai kesatuannya.

Melissa bertemu Laila, yang mempunyai rambut seperti kegelapan malam, saat senja dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa dia sadari. Melissa punya segalanya saat Laila masuk dalam kehidupannya dan Melissa harus berjuang agar segalanya tidak porak poranda. Laila menyeruak seketika, di kampus Melissa, di mimpi Melissa, di kehidupan cinta Melissa. Keduanya menyukai Romeo dan Juliet, Melissa utamanya, keduanya jatuh cinta pada pandangan pertama dan mabuk karenanya.

Dulu, ibuku selalu bilang, tak usah kuatir masalah cinta. Hal itu mungkin juga dikatakan ibu semua gadis, bahwa kita musti bertahan pada lelaki yang setara bibit, bebet, bobot.  Kesetaraan di jaman ini mungkin tak lagi mengenai hal itu. Dan bagaimana kalau kita beri referensi baru pada "kesetaraan" dengan tak melulu lelaki dan perempuan yang seimbang?

Bergabunglah dengan Melissa dalam memaknai kesetaraan dan cinta, and prove that mommy lied.

Kamis, 23 Januari 2014

new year new passion?

Sejak akhir tahun kemarin, aku memilih lebih banyak membaca. Diariku kosong, mungkin sebagai mekanisme pembelaan ego, ada satu lubang besar di hatiku sepeninggal Bapak dan aku belum tahu bagaimana mengatasinya. Januari ini adalah bulan ketiga masa penyesuaian diriku, dan aku merasa banyak dari diriku yang terpendam mati bersama Bapak.

Salah satunya adalah keinginanku untuk menulis. Biasanya aku orang yang mampu mengatasi kekeringan ide, tapi kali ini aku benar-benar tak punya napsu untuk menulis. Tulisanku cuma tentang ilmiah saja, seolah ada prioritas yang bergeser dalam hidupku yang selama ini mencintai fiksi. Aku kerajingan buku-buku ilmiah dan itu mematikan imajinasiku. Saat aku coba menulis kelanjutan Kereta Malam, aku berhari-hari hanya menatap iPad dan berharap bisa membaca buku ilmiah kembali. This isn't good, aku tidak pernah punya ambisi tentang kehidupan pendidikan formal, dan aku merasa hidupku seimbang membaca mimpi-mimpi dan cerita-cerita indah milik orang lain. Puisi.

Karenanya aku memutuskan kembali ke fanfiction. Ku putar kembali anime seri MaiHiME, MaiZHiME sampai OVAnya. Kannaduki no Miko. Banyak yang terlewat olehku, yang baru tertangkap kali ini di panca indera. Banyak ide, tapi tak satupun dapat kutulis. What the hell?! Apa gunanya banyak ide kalau gak bisa nulis karena gak bisa menuangkannya. Ide bisa pergi, bisa buyar, bisa lenyap, tinggal aku yang ngaplo menyanyikan, "ide jangan kau pergi tinggalkan diriku sendiri, ide jangan kau lari..."

Barangkali karena sudah lebih dari 25 tahun bersekolah, aku bosan juga dengan prestasi sekolahku yang biasa-biasa saja. Tapi sekolah memang tak pernah menarik buatku.

Okelah, coba kupaksa diri membuat beberapa cerita pendek atau puisi. Sekarang, aku mau belajar dulu, cie...

Jumat, 29 November 2013

Resensi buku: Ash

Ash, ditulis oleh Malinda Lo dan terbit tahun 2009 sebenarnya merupakan buku yang sudah lama saya incar. Tapi berhubung keuangan tidak memungkinkan, saya baru bisa membeli karya Malinda Lo di tahun ini. Hasilnya, saya tidak menyesal.

Malinda Lo mengutak-atik cerita Upik Abu demikian rupa hingga menjadi cerita dongeng yang dilatari cinta dua perempuan.

Dibagi dua bab besar, bab pertama menceritakan tentang kehidupan Ash sepeninggal kedua orang tuanya dan pertemuannya dengan seorang peri, Sidhean. Bab kedua berkisar tentang Ash dan seorang pemburu pilihan Raja, Kaisa.

Di tengah cinta segitiga antara kedua makhluk yang berbeda dunia, Ash yang tampak lemah dan kurang greget dalam kebimbangannya memaknai cinta, ternyata merupakan perempuan yang tahu apa yang dia inginkan dan bagaimana mendapatkan apa yang dia inginkan.

“Do not fall in love with those who cannot love you” adalah pelajaran sekaligus cuplikan yang bisa dipetik dari pembicaraan Ash dan Kaisa. Pada akhirnya Ash hanya bisa hidup di satu dunia saja, dunia manakah yang bakal dipilih Ash? Dunia yang berisi ibu tiri yang menjadikannya sebagai pembantu dan kerap menyiksanya secara fisik dan batin namun memiliki Kaisa yang kerap dirindukannya dan bisa dengan mudah ia temukan, ataukah dunia peri yang memiliki Sidhean yang indah dan dengan sabar menantinya serta dapat menemukan Ash dengan mudah?

Bagi pecinta negeri dongeng, buku ini harus masuk daftar wajib baca, meski dialog di dalamnya kadang sedikit membingungkan.

Bagi yang mengenal saya, boleh mengontak saya untuk peminjaman buku ini. Tapi tolong, ya, kembalikan.

Kamis, 24 Oktober 2013

A better person?

6.39 pm
Sept 23rd, 2013
Senin

Banyak orang mengaku menjadi lebih baik setelah melewati kesulitan yang meremukkan hati.

Aku tidak merasa lebih baik.

Aku tidak berubah menjadi sangat relijius, tidak merubah prasangka burukku terhadap Tuhan, tidak berpikir bahwa ini sebuah cambuk untuk memperbaiki diri dan tidak menjadi orang yang lebih baik.

Berulang kali kuulang dalam hati, count your blessing, mengulang kata cewek Katolik yang pernah kugila-gilai beberapa saat lalu. Di saat-saat aku kesulitan mengontrol kemarahan atau rasa putus asa, selalu ada satu atau dua kata miliknya yang bisa kujadikan pegangan meskipun komunikasi dengannya masih terasa sulit untuk hatiku. A blessing in disguise.

Dan aku itu, fisik sekali. Sebagai contoh, sangat membutuhkan pelukan di saat aku berada di titik terendah. Karenanya aku kurang mengandalkan Tuhan.

Saat aku SMP, aku selalu berpikir takkan pernah bisa lulus SMA. Aku punya kakak yang lebih tua tiga tahun. Dulu, dia rajin belajar di meja ruang tamu, terutama mengutak-atik soal Matematika, dan aku kerap mengintip tugas yang dia kerjakan saat orangnya tak ada. Tugas-tugas itu terlalu sulit untukku.

Temanku bilang, nanti kalau SMA pasti bisa mengerjakannya. Bahwa aku perempuan pintar. Mungkin maksudnya adalah aku mesti naik satu demi satu anak tangga untuk berada di tingkat kakakku saat itu.

Di SMA aku tidak pernah mengerjakan tugas Matematika, guru menghadiahiku angka-angka merah di raport tanpa perbaikan. Saat kelas tiga aku menyadari bahwa ini adalah tahun terakhir aku menentukan jurusan pilihan, sebab aku harus berkecimpung selama beberapa tahun di bidang tersebut. Kuliah, maksudku.

Saat masuk dalam jurusan favorit sebagai mahasiswa baru, aku berkembang jadi perempuan sinis dan tidak bahagia. Sampai pada anak tangga ini tak satupun mendapatkan hal-hal yang kuinginkan.

Temanku pernah bilang kalau dia heran dengan orang yang melakukan dan menggeluti hal yang tidak mereka inginkan atau cintai. Kakakku pernah bertanya, kalau saat itu aku boleh memilih melakukan hal yang kuinginkan, apa yang bakal kupilih?

Sejujurnya, aku tidak menginginkan apa-apa. Saat kita berulang kali kecewa, kadang kita menjadi lelah berharap. Sampai aku sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang kuinginkan.

Barang kali benar kata temanku SMP, aku belum sampai di anak tangga itu. Belum sampai pada anak tangga "menjadi orang yang lebih baik pasca cobaan berat". Belum sampai pada anak tangga "mengetahui, mengejar atau mendapatkan hal yang diinginkan". Barang kali yang terakhir karena aku kurang ambisius.

Paling tidak, we have to be steady. Lalu naik pelan-pelan, menikmati proses pembelajaran merunuti anak tangga demi anak tangga.

I'm not a better person, but I learn to be.