Tampilkan postingan dengan label lost season's calling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lost season's calling. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Mei 2015

Kepada: 2009

Message:
"I wanted you to fight for me
I wanted you to chase after me
But instead you just watched me leave"

Membaca pesan yang kuterima dan aku tersenyum sedih.

Katakanlah padaku sekali lagi, cinta saja itu cukup. Akan kucoba meyakinkan diri, bahkan dalam mimpi akan kuulangi. Bahwa dengan cinta saja aku telah punya segala yang kuimpikan, dari banyak hal yang kuperjuangkan sekian tahun aku hidup.

Katakan bahwa cintaku padamu sudah cukup untuk menghidupi hatiku memintal benang demi benang kehidupan. Hingga aku tak perlu merasa pilu saat di sana kau bisa memeluk orang lain sedang aku sibuk memetakan rasa. Dan aku tak usah tersedu saat memikirkanmu sedang di sana kau memikirkannya.

Katakan padaku ada yang lebih egois dari pada cinta. Katakan bahwa ada yang lebih merusak diri dari keinginan untuk memiliki tanpa kemampuan mengendali diri. Katakanlah bahwa aku duduk di singgasana yang benar, memberikan kekuasaan padamu untuk merajalela mencuri dan sekali lagi mencuri dariku. Curilah cintaku padamu dariku, bawa ia dalam peti agar bisa ikut ke manapun kau pergi. Bawa saja jasad yang tak ingin kulihat lagi.

Oh kekasih, seandainya kau tahu betapa kerasnya aku mencoba. Begitu naif di usia dua lima dan kau dogmakan padaku rasa yang ingin kau rasakan mengenai rasaku padamu. Sedang masing-masing kita memiliki rabun jauh yang beda, bagaimana bisa kau paksakan aku melihat apa yang kau lihat? Kau bilang cinta saja cukup untuk kita, sungguhkah itu cukup untukku?

Kalau toh cintaku saja cukup buatmu, mengapa kau sibuk menghidupi cinta yang lain?

Sebelum aku terjatuh makin dalam, katakan padaku sekali lagi bahwa cinta saja itu cukup. Biar aku meresapi tiap kata yang kau pilih dan aku memang sudah kepalang tanggung. Aku akan menangis untukmu, merenungi permintaanmu yang mustahil, akhirnya aku memutuskan tak mampu. Caramu terlalu sulit untukku.

Katakanlah bahwa aku tak pernah bahkan untuk mencoba berjuang untukmu. Aku takkan pernah membantahmu. Bagaimana bisa aku membantah dengan lidah kelu?

Reply:
"Because, before you, fall in love at the first sight has never felt as good as the first time. I am not your first. You are my sudden."

Selasa, 09 Desember 2014

Pantai Hutan Bakau

Hari ini aku datang padanya. 

Setelah perjalanan malam di udara. Aku merindunya.
"I thought you were asleep"
"I tried to...but then I kept seeing you and her together"
Aku tidak bisa menjawab apa-apa dan hanya menciumnya. Sering dia membuatku hilang kata-kata. Kadang kami hidup di dunia di mana kata-kata tidak pernah ada. Semua hanya bahasa tubuh dan tulisan. Bibir hanya untuk mencium dan memagut.

Apa benar ini mimpi yang jadi nyata?

Apakah pagi nanti aku bangun dalam rumah impiannya di pinggir pantai?

Laut. Biru. Ksatriaku.
Yang sibuk menyisir pasir. Dan aku memandang seolah tak mengenalnya, dengan keingintahuan yang besar. Rambut legam yang dipermainkan angin, yang menitiskan embun segara.

Lengkap dengan kemeja putih, dia acuh menantang matahari yang membakar kulit. Buih-buih bertabrakan pada karang dan kaki telanjang. Aku seperti terbius, menuruti jengkal demi jengkal keinginannya menyisir.

Tapi aku ingin berlari kembali. Aku tak pernah begitu mencintai laut. Tidak pula pada refleksi langit. Tidak pada senja dan matahari terbit.

Angin laut hanya membawa kabar duka. Berita kepergian yang dinyanyikan burung-burung dari satu musim untuk mengejar musim yang sama.

Musimku sudah hilang.

Dan aku penat dalam selimut musim baru yang asing. Musim yang hanya membuatku ingin menutup pintu dan selamanya tertidur dalam hutanku. I'm always sleeping in my forest of thorn. Sampai suatu hari tiba musim laut dan pintuku mendadak terbuka. Seseorang memaksa masuk dan aku tidak berdaya. Dia.

Badai laut membahana. Angin menyusupkan warta yang tak ingin kudengar, kisah yang ingin kulupa.

Kususuri jejaknya kemudian, supaya angin membunuh diriku yang mencintainya.




Untuk: M

Jumat, 31 Oktober 2014

Di Bawah Telapak Kaki Ibu

Tiga puluh tahun lalu, aku lahir karena Ibuku menginginkanku.

Satu malam lalu, seorang teman bercerita tentang anak dua belas tahunnya yang dua kali sudah berusaha ia gugurkan tapi tak berhasil.

Tahun lalu seseorang yang pernah penting bagiku, yang memutuskan untuk menikah, kehilangan bayi pertamanya dalam kandungan setelah beberapa tahun pernikahan tak menginginkan anak. Kabar itu membuatku terpekur, menyadari betapa rentannya ia mengalami depresi, tapi memutuskan dalam hati bahwa aku bukan orang yang tepat untuk menemaninya melewati masa sulit itu.

Beberapa tahun lalu, seorang teman dari mantan menghubungiku. Bertanya padaku, bisakah membantu menggugurkan kandungannya?

Aku meletakkan handphone dan menghembus napas yang tak sadar telah kutahan. Ada berbenih-benih kesedihan, tumbuh merambat hingga menjebol bendungan air mataku. Pesan yang kuterima beberapa hari kemudian di beberapa tahun lalu juga menghancurkan hati. Keinginannya tercapai sudah.

Aku anak perempuan kesekian dari sepasang suami istri yang punya perbedaan usia sebelas tahun, yang berkembang lebih ke arah Bapak daripada Ibu. Kehilangan Bapak seperti gempa yang memorak-porandakan berbagai pondasi. Termasuk pondasi penghormatanku terhadap Ibu. Aku memang jarang sepakat dengan Ibu. Bisa dibilang durhaka.

Aku nyaris menyesali keputusan Ibu untuk mempertahankanku dalam kandungannya.

Seumur hidupku, aku melihat Ibuku hanya melihat kakak laki-lakiku. Seperti Ibu Jawa kebanyakan. Kakak laki-laki satu-satunya yang digadang-gadang menjadi tempatnya manamatkan hari tua. Kecemburuan tak pernah begitu dahsyat sebelum Bapak berpulang. Saat ini, aku sudah hampir lulus dan bekerja dengan gaji yang berlebih bila kupakai sendiri. Ibuku bilang aku akan jadi tulang punggung pengganti Bapak, sementara Ibu sibuk menyapih kakak laki-lakiku dari mimpi-mimpi ideal.

Aku nyaris berpikir bahwa aku lebih baik kehilangan Ibu daripada Bapak, hatiku hancur oleh bayangan Bapak kehilangan perempuan separuh jiwanya.

Lalu aku menapaktilas kembali perjalanan. Betapa aku lahir karena Ibuku menginginkanku. Menginginkanku sampai pada kadar nyawanya tak lagi penting, meskipun dengan bumbu mengira aku bakal jadi anak laki-laki, perdarahan demi perdarahan terjadi pada trimester akhir yang membuat dokter mempertimbangkan untuk mengorbankanku daripada Ibuku demi menekan jumlah kematian Ibu.

Apakah penting mencari tahu alasan seseorang mempertahankan hidup orang lain?

Kalaulah seseorang berterima kasih padaku karena menyelamatkan nyawanya saat dia tenggelam di laut bila pekerjaanku penjaga pantai, apakah ia berterima kasih pada pekerjaanku ataukah ia berterima kasih karena aku memang benar-benar mau menyelamatkan nyawanya?

Kalaulah seseorang berterima kasih padaku karena menyelamatkan nyawanya saat dia sakit bila pekerjaanku dokter, apakah ia berterima kasih pada pekerjaanku ataukah ia berterima kasih karena aku memang benar-benar ingin menyelamatkan nyawanya?

Apakah penting mencari tahu alasan seseorang mengambil nyawa orang lain?

Mengapa dokter lebih memilih mempertahankan Ibu? Karena Ibu bisa memiliki anak lagi? Apa aku semudah itu terganti? Bagaimana orang bisa tahu bahwa  tiga puluh tahun kemudian anak yang akan dikorbankan itu menjadi sandaran letih, menjadi satu orang kebanggaan, menjadi satu mercusuar bagi orang lain?

"Sorry, is all that you can't say
years gone by and still words don't come easily

I love you is all that you can't say
years gone by and still words don't come easily"*

Di saat seperti ini aku ingin mencium kaki Ibuku, ingin menangis dalam pelukannya dan mengucapkan maaf. Meski hanya ingin. Mungkin karena di bawah telapak kaki Ibuku ada surga. Mungkin sebagai rasa terima kasih sudah memutuskan untuk berjuang bersamaku saat kehamilan dan persalinan tiga puluh tahun lalu. Aku mungkin ingin memeluk Ibu karena telah tiga satu tahun ini mencintaiku apa adanya, membiarkanku mencintainya dengan bersikap apa adanya, membiarkanku tumbuh dan belajar mencerna apa yang ada. Aku mungkin ingin memeluk Ibu karena sudah memberiku kesempatan, untuk mengarungi dunia lebih luas dari kakak laki-lakiku. Melangkah setapak demi setapak dalam dunia yang tak sempurna. Atau mungkin aku memeluk Ibuku untuk alasan yang tak ingin kuketahui karena aku hanya ingin memeluk Ibuku.

"I don't know but I believe that some things are meant to be
and that you make a better me"*

Bahwa sekalipun aku hanya melihatnya melihat kakak laki-lakiku, aku tahu pasti, Ibuku 'melihatku' dengan inderanya yang lain.


*Lirik lagu yang dipopulerkan oleh Boyzone

Kamis, 13 Juni 2013

BFF (Best Friend Forever)

Sebuah short message sampai pada mobile-ku, dari seorang teman, bisa dibilang sahabat, sejak SMP (Sekolah Menengah Pertama).

"sbuk bngt ya? g da wktu luang gtu? sometimes I want 2 see cz I know we r best friend ever, but I was afraid if we'r not feel the same (:-[ ashame)"

Sesungguhnya aku tidak mengerti maksud dia apa.

"We're fine this way. Onok opo to pin?"

Jawabanku tidak dibalasnya.

Aku selalu merasa, she's trying to reach for me. Dulu di SMP aku yang berusaha reaching for her. Tapi, rupanya, dia lebih cocok bersahabat dengan orang lain, dan aku berusaha legowo saat dia lebih dekat dengan Heni. Mereka sebangku, rumah bersebelahan. Secara fisik dan mental, Heni lebih nyata karena dia dekat. Aku dan dia beda kelas.

Selepas SMP, dia ke luar kota, sukses dengan organisasi yang digelutinya sejak SMP. Organisasi yang sama kami geluti bersama di SMP tapi aku tidak berminat lagi di jenjang selanjutnya. Aku ilang feeling -ilfeel- sama yang namanya organisasi siswa sejak terancam drop out di SMP. Bukan karena raporku merah, mulutku ini tak bisa kujaga.

Memang tak salah kalau seandainya dia bilang aku berubah. Sejak kejadian aku menciumnya saat kuliah, itu membuat cara pandangku berbeda pada persahabatan. Aku, pasca kejadian itu, bersumpah palapa bahwa aku takkan jatuh cinta pada sahabatku lagi. Aku memperbaiki diriku sendiri dan belajar memaafkan diri sendiri untuk waktu yang lama. Waktu yang kuberikan pada diriku sendiri dengan menghindarinya. Pesan-pesan lewat mobile yang kubalas singkat, padat, jelas, seolah kami dua orang asing sudah pasti membangkitkan luka, sebab dulu aku orang yang selalu mencambuknya untuk maju, menamparnya dengan kenyataan, menepuk bahunya untuk bangkit saat dia jatuh. Aku hampir selalu ada dan mengulurkan tangan di saat dia butuh. Lalu, aku berubah menjadi orang yang tidak lagi bisa dia andalkan.

Aku melakukan semua hal di atas bukan karena aku jatuh cinta padanya sejak awal. Aku cuma penasaran bagaimana "rasa" sahabat. Dan hal manis kudapatkan dari dirinya sebelum dia menolakku. Bukan menolakku sebagai kekasih, aku tak pernah menginginkannya demikian. Aku merasa dia berubah lebih dulu daripada aku. Juga kenyataan bahwa kami ternyata tak sedekat itu, sebagai sahabat maksudku, di SMP. Kemudian dia menuduhku berubah, menjadi perempuan yang sekarang ini jauh darinya, dan mengatakan ini-itu tentang bagaimana seorang sahabat seharusnya.

Aku tak sepakat.
Sesungguhnya, aku menyukai diriku yang sekarang. Hubungan yang stabil, dan sahabat-sahabat yang saling membantu. Saling membantu, bukan satu sisi saja.

Kalau boleh kutanyakan, ke mana dia saat aku terancam drop-out dari SMP kami, ke mana dia saat aku berusaha memahami kelesbiananku -saat aku menciumnya, kebingungan pasca kejadian itu, dan mesti memagari hati dari para sahabat-, ke mana dia saat aku limbung dan linglung, lalu melakukan hal-hal bodoh, ke mana dia saat kekasih laki-lakiku mengkhianatiku, alasan apa yang akan dia utarakan padaku? Aku berubah, ya. Lebih pada cara pandangku menyikapi persahabatan.

Aku tak memahami arti "selamanya".
Sesungguhnya mereka-mereka yang kuanggap sahabat berakhir meninggalkanku, lalu aku meninggalkan mereka. Sering, kami lebih memilih tidak membicarakannya, tiba-tiba menjadi orang asing, dan aku tidak keberatan kehilangan orang-orang yang kukasihi. Hubungan itu, persahabatan maupun cinta, sering seperti meteorid, berpijar terang di satu waktu lalu padam selamanya. I'm in a process, takkan kubiarkan satu orangpun menghalangiku untuk belajar menjadi besar. Belajar legowo dan melepas pergi. Belajar merelakan sesuatu yang kita inginkan, tapi ternyata tak baik untuk kita.

Kita baik-baik saja di titik ini, Pin. Aku masih seorang sahabat bila kamu mengira aku demikian. Hanya saja paradigma yang kupilih berbeda dengan saat itu. We are best friend, and best friend we shall be.

Jumat, 12 April 2013

Aku Jatuh Cinta

Aku jatuh cinta

Pintaku, lepaskan yang tak pernah saling di antara kita
Sekian kali kita bicara, tak kepadamu aku jatuh cinta
Kau tak berhenti tak mengerti kenapa aku tak bisa
Aku hanya tak bisa. Aku tak tahu jawabannya

Kini aku telah jatuh cinta
Mestikah kutegaskan ini luka?
Aku tak mau melihat sinar itu padam di matamu
Tapi bukan cinta yang kuinginkan

Aku jatuh cinta

Kau tak perlu menabahkanku dengan doa
Hanya jangan pergi
Aku bukan memberimu ketidakpastian
Tidak pula sebarang janji

Barangkali sekedar mementingkan diri
Tanpa bisa memberi apa yang kau impikan

Rabu, 08 Februari 2012

lorong tanpa lorong

aku tak ingin terperangkap detil kepergianmu
asa musnah
hati tercabik

lalu waktu menjadi gasing, bumerang
berkisar
kenangan cuma masa lalu

ingatan hanya jebakan mimpi
genangan sepi
luruh di pagi-pagi

kita, para pelari
sepanjang jalan, sebagian mencipta lorong
berlari dan berlari
kau tak perlu terperangkap detil kepergianku

Kamis, 19 Januari 2012

set adrift on memory bliss

Aku seperti lupa, berapa lama kita tak jumpa, seperti sudah selamanya. Selamanya sudah berlalu, tinggal aku menatapmu di kejauhan, stelan jas formal membungkus rapi tubuh rampingmu. Aku sampai lupa kalau kamu lebih tinggi dari aku, tujuh senti kurang lebih. Banyak yang sudah kulupakan tentang kamu, aku lebih tertarik untuk mengenal kamu yang sekarang ini ada di hadapanku. Kamu yang sekarang.

Barangkali agak menyenangkan juga, kita berdua sama-sama terjebak di pulau Dewata untuk menghadiri simposium kerja profesional kita. Tapi, aku cuma asisten di sini dan kamu, apa ya kamu, petugas keamanan mungkin? Kamu pasti akan mengulang kata 'petugas keamanan' dengan kata-kata yang santai dan penuh canda. Aku selalu suka cara bercandamu yang itu. Cara bercandamu yang membuatku tersipu.

Dan malam tiba, aku tahu kamu pasti tidak tahan untuk tidak mendekatiku. Kamu memang cukup agresif, dan ingatanmu yang kuat tentu belum melupakan kisah cinta seumur jagung kita waktu sekolah dulu. Lihat dirimu, senyum lebar penuh percaya diri, androgini yang anggun, berambut panjang, sedikit mengembang bekas di sasak sana-sini, kulit kering karena rajin mandi air hangat, rambut agak rusak karena banyak dimodif untuk pesta, tapi senyummu tetap tak berubah. Dan yang paling kusuka adalah senyummu.

Bertemu denganku hanyalah alasan kedua kamu di sini, seperti juga alasanku karena aku tidak tahu kalau akan bertemu kamu di sini. Semuanya terasa asing, kamu seperti makhluk baru bagiku, bukan karena kamu jauh berubah. Aku seperti lupa kamu pernah ada di hidupku. Rasanya sudah lama sekali padahal aku baru mau menginjak 28 tahun. Tidak selama itu, bukan? Aku tidak keberatan, aku masih menyukaimu di pandangan pertama, apalagi kamu memberi bonus senyum manis yang tak terjadi di pertemuan kita pertama dulu. Begitu menyenangkan sampai aku lupa cincin yang mengikat jari manismu. Apa itu dosa yang paling manis? Dosa yang tercatat dengan jari manismukah? Aku mabuk kepayang, aku lupa daratan. Aku lupa ada cinta yang seperti ini dan dalam seminggu semua akan berakhir seperti kisah cinta yang sedih di film drama, aku menangis sendiri sementara kamu memeluk orang lain dan aku hanyalah teman kencan seminggumu di pulau Dewata. Aku tak keberatan, bukankah orang mabuk selalu nyeri kepala setelahnya? Dan itu tidak menghentikan mereka untuk mabuk lagi.

Kita berjalan berhimpitan, kurangkulkan lenganku pada pinggangmu, mencubit gemas sedikit lemak yang bersembunyi di sana. Seminyak, Kuta, Padang-Padang, Benoa, duh terus mana lagi ya? Aku tak peduli latar belakangnya mana, yang penting aku bersamamu. Pelan-pelan melangkahi hari demi hari hingga saat mimpi sedih tiba. Hari terakhir dan senyummu masih sama, tidakkah ada sebersit kesedihan tersirat di hatimu? Mungkin aku tak perlu mengharap demikian, selepas ini kamu punya kekasih lain untuk memelukmu. Sedang aku terbangun dari mimpi sedih mengenang kebersamaan kita. Demikian cinta menjadi begitu memabukkan, memisahkan hati dari logika, selalu begitu kalau tentang kamu.

Dan aku terbangun dari mimpi sedih itu ini malam.


~inspirasi: patah hatinya boneng

a very sad movie-like dream

after a conversation via ym with a broken-hearted boneng, last night i dreamt about tough moments.

it was tough, woke up crying.

it's hard being denied after being loved but, its better find out now than never. life's still going on, dont narrow minded and never say regret.

Senin, 08 Agustus 2011

she never drinks the water and makes you order french champagne

aku akan selalu ingat kegilaan yang kau bawa

serasa aku terbangun di sebuah losmen tengah kota
murahan dan dekil
tapi funky
satu dari sekian tempat favorit backpackers sepertiku

perutku melilit
memaksaku membeli satu dari sekian makanan haram
yang dijajakan kota seribu turis

kemanapun aku pergi
kamu seperti bayang-bayang
berlari saat aku berlari

sekali aku merasakanmu, aku tak sama lagi
seperti candu

Kamis, 21 Juli 2011

satu

Tuhan, untuk kali ini aku berharap: cukupkanlah asaku, cukupkanlah rasaku sampai di sini

Ada kedekatan yang terasa begitu menyesakkan
Dan menjadi jauh tak pernah menjadi satu lintasan pikiran
Aku begitu tergebu oleh rindu
Begitu lumrah sepertinya merunuti fragmen jejakanmu

Jejak yang mengabu sekian tahun di penantianku

Tuhan, untuk kali ini aku berharap: cukupkanlah asaku,
rasaku
kali ini
sampai di sini

Kalau, toh, kau hadir hanya serupa pusaran mimpi
Dalam hidupku dan sebentar saja memberi rona
Kuyakini aku mampu, aku bisa
Meyakinkan diriku sendiri untuk melangkah lagi
Meyakinkan diriku sendiri kalau kau hanya sebatas mimpi

Tuhan, untuk kali ini aku berharap: cukupkanlah asaku,
rasaku

Sebab kau dan aku tak mungkin satu

Rabu, 18 Mei 2011

kau dan aku

ada kisah yang kita bagi
waktu itu
saat tanganku terbiasa memeluk tanganmu

ada rindu yang kita lewati
bersama
dalam ruang waktu masing-masing

saat itu aku tahu
aku tak berbeda jauh denganmu
memendam pilu

tapi esok
siapa yang bisa menjanjikan tentang esok?
cinta bisa sirna
rindu dapat punah
mungkin, kudapati diriku merenungi sesal yang datang terlambat
dan kau obati perlahan dirimu dengan kenangan dan orang baru

sementara tak kita janjikan setapak yang berdua
telah kau tepati janjimu untuk membiarkanku memilih
dan aku cuma tempat sementara kau berteduh
sebelum kau cintai perempuan selainku

seperti saat ini

kau tak perlu ragu
biarkan kutersedu
langkah yang membawa kita menjauh dari satu dengan yang lain
kuyakin suatu hari kita bertemu di kereta yang sama
berbagi cerita
akan kau katakan betapa kau merinduku
dan betapaku mencintaimu, dulu

kau tak perlu ragu

Selasa, 22 Februari 2011

almost doesnt count -brandy

Almost made you love me
Almost made you cry
Almost made you happy, baby
Didn't I didn't I
You almost had me thinkin'
You were turned around
But everybody knows
Almost doesn't count

Almost heard you saying
You were finally free
What was always missing for you, baby
You'd found it in me
But you can't get to heaven
Half off the ground
Everybody knows
Almost doesn't count

I can't keep on lovin' you
One foot outside the door
I hear a funny hesitation
Of a heart that's never really sure
Can't keep on tryin'
If you're looking for more
Than all that I could give you
Than what you came here for

Gonna find me somebody
Not afraid to let go
Want a no doubt be there kind of man
You came real close
But everytime you built me up
You only let me down
And everybody knows
Almost doesn't count

Maybe you'll be sorry
Maybe you'll be cold
Maybe you'll come runnin' back, baby
From the cruel cruel world
Almost convince me
You're gonna stick around
But everybody knows
Almost doesn't count

So maybe I'll be here
Maybe I'll see ya around
That's the way it goes
Almost doesn't count

Minggu, 02 Januari 2011

biar

tinggal dua kait yang menjembatani realitaku dan realitamu
kubiarkan begitu, kubiarkan berlalu
sampai perih itu pergi dari hatimu, dari kepalaku dan
aku tak bertanya kenapa

Sabtu, 01 Januari 2011

gerimis : ro

gerimis. dan hujan yang kuacuhkan.
kupandang tempias hujan pada sepatu dan celanaku.
anak-anak hujan yang bermain hujan-hujanan.

gerimis akan selalu membawaku pada kenangan akanmu.
dibaluti gerimis yang sedih, langit yang mendung,
udara yang tak menggejala.

saat mulai hujan biasanya aku akan berlindung
pada ketiak orang-orang yang tak lagi bebas
berjalan menjauhi suara hujan menyusuri lorong

sampai pada gerimis berikutnya
gerimis yang senantiasa mengingatkanku
pada kenanganmu


nb : kau tahu, aku tak suka hujan-hujanan. kupandangi hujan sebentar, berdoa dalam hati, lalu kuacuhkan. toh hujan cuma sebentar. semoga doa terkabulkan.

Jumat, 17 Desember 2010

desember kedua


Beberapa hari ini, begitu rindu dengan Aya' dan masa-masa indah dulu. Desember kedua.

Sebagian diriku akan selalu mencintai Aya'. Aku berlapang dada dengan semua itu. Apapun yang terjadi di garis akhir percintaan kami, sebagian darinya akan selalu kubawa di perjalanan seumur hidupku.

Itulah kenapa bagiku begitu logis merindukannya. Aku begitu mencintainya sebelum dia tercerabut paksa dan menceraikan seluruh pertemanan. Satu ruang besar yang penuh sesak olehnya sebelumnya, tiba-tiba hampa setelah mampatnya.

Akan selalu ada rasa rindu untuk kembali menyusup dalam pelukannya. Akan selalu ada waktu untuk menyisir kembali ke pantai-pantai kenangan itu.

Tapi di saat yang sama, aku merasa saat ini, sampai pertengahan Desember ini, adalah saat-saat terbaikku. Di mana aku terpaksa belajar banyak, formal maupun non-formal. Ada begitu banyak yang kulakukan yang bisa membuatku menepuk dada bangga, bahwa aku bisa menghidupi kesendirianku dengan banyak hal berguna. Mulai keputusanku untuk kembali menolak Xapi karena dia sudah punya Ven, I don't want to take her just to have somebody by my side, lalu meneruskan sekolah, mencoba mengirimkan tulisan ke Sepocikopi dan dimuat, mengirimkan tulisan ke Herstory meski tak juara, lalu di detik ini aku mencoba mengawali hari dengan menulis kembali. Untuk Aya', dengan seluruh keberanian.

"Suatu hari aku pasti mati. Tulisanku akan menjadi mantera untuk menghidupkanku kembali."

Ada begitu banyak yang ingin kutulis hingga Desember ini. Begitu banyak kerinduan akan Aya' hingga aku harus mengekangnya. Membuat blog baru yang tak ada Aya' di sana. Aku harus melakukan sesuatu agar tidak "menye-menye" dan kembali ke telapak tangan Aya' atau Xapi. Seandainya mereka tahu betapa kerasnya aku mencoba, tapi tak kubiarkan mereka tahu.

Ini saat-saat terbaikku di mana aku diberi pengajaran yang besar, tentang cinta, logika, kenyataan, moral, persahabatan, sekolah, juga banyak hal lain. Kesedihan tunggal yang sebelumnya kurasa, ternyata tak menghentikanku untuk melangkah jauh meski sendiri.

Itulah rupanya aku jadi lupa jalan pulang. Atau aku tak mau menjadi aku yang dulu. Aku tahu sekarang mana yang lebih kucintai : Aya'/Xapi atau diriku sendiri. Aku tak mau kembali dihargai semurah "selingkuhan" atau "rumah" bagi mereka. Aku ini manusia. Akupun butuh rumah yang bisa membuatku aman dan nyaman. Kalau toh nanti itu kudapatkan dari laki-laki, aku akan menerimanya dengan tangan terbuka dan belajar banyak hal di sana.

Aku harus berterima kasih terhadap begitu banyak hal yang menempaku. Aku tahu akan selalu ada bagian dari diriku yang merindukan dan ingin kembali pada Aya'. Aku tahu dalam hatiku akan selalu ada bintang yang bersinar karena kehadirannya dalam hidupku. Aku tahu aku takkan sampai pada saat terbaikku ini tanpa melewati apa yang terjadi. Fase-fase yang ada telah lengkap kini : denial-anger-bargaining-acceptance. Aku harus melangkah lagi, Ya'. Terima kasih telah begitu mencintaiku meski kau mencintaiku dengan cara yang tak pernah kumengerti. Meski bagiku hanya dirimulah yang kaucintai dalam mencintaiku.

Aku tak bisa mengatakan lebih. Aku telah menahannya selama ini. Aku lebih tahu daripada semua yang mengenalku tentang cintaku padamu. Kulakukan yang terbaik untukmu, kuberikan segalaku untukmu. Terima kasih untuk kenangan-kenangan yang ada.

Aku cinta kamu.

"Aku yang lemah tanpamu, aku yang rentan karena cinta yang tlah hilang darimu yang mampu menyanjungku. Selama mata terbuka sampai jantung tak berdetak, selama itupun aku mampu untuk mengenangmu. Darimu kutemukan hidupku, bagiku kaulah cinta sejati. Bila yang tertulis untukku adalah yang terbaik untukmu, 'kan kujadikan kau kenangan yang terindah dalam hidupku, namun takkan mudah bagiku, meninggalkan jejak hidupku yang tlah terukir abadi sebagai kenangan yang terindah."

Tapi aku bukan tak menangis
Kamu cuma tak tahu, sayang
Banyak cinta yang ditawarkan padamu karena kau rupawan
Sedang aku berenang pada palung sendiri tanpa cahaya matahari
Banyak orang yang rela kau jadikan sandaran
Sedang aku bahkan harus membunuh temanku satu-satu hanya untuk percaya siapa yang dapat dipercaya

Juga ada begitu banyak yang harus kulakukan, mengalir sejalan airmataku

Kamu cuma tak tahu, sayang.


Its tearing up my heart when I'm with you, but when we're apart I feel it, too. So, no matter what I do I feel the pain, with or without you.

Jumat, 10 Desember 2010

waktu dan duniaku dan kesendirian


dalam duniaku, waktu menjadi instrumen yang begitu penting.

jadi waktu-waktuku, setiap detiknya adalah berharga. juga waktu untuk diriku sendiri dalam kesendirian. kau lihat, tak sepertimu, aku bukan orang yang tidak bisa menghadapi kesendirian. tidak pula saat-saat waktumu mematahhatikanku.

aku bisa bercerita banyak sekali pada tulisan-tulisan di diariku dengan menjadi sendiri. aku tahu rasanya sendirian. ada kalanya aku menangis, ada kalanya sendiri begitu memuakkan. tapi aku menikmati waktuku, sebab aku tahu waktu-waktu seperti ini akan jarang kunikmati nanti. ada begitu banyak hal yang akan menyita waktuku nanti, sehingga sehari tak cukup 24 jam lagi. waktu-waktu yang kugeluti selama dua tahun dulu, yang menyisakan begitu banyak cerita, rasa manis dan kesedihan, akan terulang beberapa minggu lagi. meninggalkan diari-diari yang kosong dan hatiku yang hampa. tak kupunya waktu sendiri.

dengan sendiri aku punya waktu untuk mendengar. dengan sendiri aku punya tulisan-tulisan yang bertambah pada blogku. dengan sendiri aku tahu rasa berharganya dicintai. aku tahu bagaimana rasanya menjadi aku yang dicintaimu. dan aku tahu bagaimana kau mencintaiku. itu semua kudapatkan dari menjadi sendiri, saat aku masih denganmu atau saat aku memutuskan untuk mengakhiri kisah kita.

dengan sendiri aku belajar memperpadat setapakku. melangkah anak tangga demi anak tangga dengan kesabaran waktu. dan dengan sendiri aku belajar menjadi besar.

jadi kau seharusnya bisa memaknai kesendirian jika kau benar-benar mencintaiku. kau seharusnya tahu betapa pentingnya sendiri dan belajar. dengan sendiri mestinya kau tahu betapa kau mencintaimu dan bertahan dengan kesendirian untukmu. dengan sendiri mestinya kau mengerti betapa aku menghargai waktu-waktu kita bersama. tapi kau bilang padaku kau tak bisa sendiri. sendiri itu menyakitkan jadi kau berpaling pada salah seorang teman kita dan bercinta. dan mengusir kesendirian. apapun asal kau tak sendirian. sementara aku belajar mati-matian tentang kesendirian. tahukah, akhirnya kau takkan menang melawan kesendirian (kau mesti belajar untuk mencintai kesendirian). dan aku pergi meninggalkan kau sendiri.

kau bilang kau orang beriman tapi kau bilang kau (tak bisa) sendirian.

munafik.

Sabtu, 27 November 2010

terbang


Kubiarkan sejumput rindu terbang rendah ke tanah
Cuaca pilu. Matahari sayu. Angin beraroma hujan.
Kubilang kau laik merasa bahagia,
sekian lama kuderakan luka, kau patut mencoba.
Cintai dia yang bersamamu

Sebab kau tak sisakan pilihan untukku tinggal

Akan kudendangkan sebait rima requiem yang sisa
dari kertas-kertas nada. Bila aku kau rupakan karang,
biar aku selamanya menjadi karang, terkikis waktu
Kau tak perlu menunggu, aku tak butuh penantianmu

Aku cuma ingin terbang. Seperti elang.
Elang terbang sendiri, phoebe.

Kau bisa tempatkan aku pada satu sudut. Aku akan
menghilang perlahan. Aku tahu peranku. Akupun tak
ingin tinggal. Kau tak sisakan pilihan itu.

Kubalurkan semua rasa di seluruh indera
untuk menangkap angin pada sayap-sayapku.
Kau tak sisakan satu pilihan untukku tinggal, aku pergi.

..cintai aku...


Cintai aku meski di sayapku tersembunyi pedang-pedang
Cintai aku di setiap tusukannya dan tiap tetes darah yang mengalir
Aku butuh kau mencintaiku seperti itu
Seperti kau seketika membunuhku

Aku takkan melumatmu dengan seketika

Cintai aku seperti kau tenggelam
Saat paru-parumu menyesap air hingga tak tersesap lagi
Tubuhmu perlahan karam dan
Nyeri itu perlahan meninggalkanmu

Akan kubunuh kau dengan perlahan
Dengan cintamu padaku
Aku tahu bagaimana menyakiti
Kupastikan kau tak cukup mati rasa untuk merasakan belaianku

Betapa kau mencintaiku

Kupastikan aku melakukannya dengan pelan
Membunuhmu dengan mencintaiku
Empat tahun

Aku tahu perih mulai meninggalkanmu (dan ku)



*23 november di 4 tahun sesudahnya

Jumat, 12 November 2010

jin dalam botol jantungku


pada sebuah kamar aku duduk dan termenung
empat tembok putih dengan rak dan buku-buku
semenjak perpisahan semua jadi berdebu

kalau kau punya sedikit keberanian
untuk menemaniku malam ini
aku ingin menangis di pelukanmu
dan menyesali perpisahan dan seluruh kerusakan yang ada

tapi aku hanya ingin mengucap selamat tinggal
kau tak perlu tersenyum
aku tahu yang tersisa antara kita cumalah kepedihan
aku tak sanggup menceritakan perasaanku satu demi satu

Rabu, 10 November 2010

breath again


I catch some air into my swolen lung
I puff and i puff
Never got enough

I can see your face clearly between the smoky air
Like a vivid dream
I need your touch
Never got enough
You seem so close yet so far away
And the memories of you rain on me
Then i puff and i puff
Still, never got enough

I carry so much loneliness since youve been gone
Keep seeing your face and missing you so bad
So bad that i cant breath

Where do i go from here ?
(All i know is i love you still)