Tampilkan postingan dengan label my weird mind. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my weird mind. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Maret 2015

A Necessary Evil

Jika gol kita untuk nulis blog adalah menjadi populer, maka kita tak mungkin hanya menulis satu bulan sekali.

Itu tugas berat kalau dipangku satu orang saja. Sesungguhnya aku tidak tahu bagaimana kiat untuk mempopulerkan blog, tapi mungkin itu berkaitan dengan menulis rutin, rutin mengunjungi blog-blog lain dan kasih komentar, atau menaruh postingan-postingan yang ilegal macam nge-crack game atau mungkin cara yang lain yang terlewatkan olehku.

Tak terbersit pikiran untuk jadi terkenal. Blog hanyalah tempatku belajar menulis dan merenung. Renungan yang seringkali tak bisa diungkap dengan kata-kata. Yang kadangkala saat membacanya kembali aku sekali lagi tak mengerti apa maksudku sendiri.

Aku cukup muak dengan orang yang menganggapku tahu segalanya. Yang menganggapku bijaksana dan itu membuatnya bisa bersikap seperti anak kecil kepadaku. Aku tak suka anak kecil. Aku tak suka orang yang menuntutku mencintainya apa adanya karena ia merasa bersikap jujur. Aku kadang tak mengerti mengapa orang tak mengerti bahwa manusia itu tak sempurna. Aku juga tak mengerti mengapa aku harus merasa ingin orang lain berbuat tanpa cela.

Sungguhpun mencintai seseorang apa adanya harus punya batas-batas.

Jika gol kita untuk hidup adalah disukai banyak orang, maka kita tak mungkin mengedepankan ego kita di atas orang lain.

Tapi aku tak hidup untuk disukai banyak orang. Dan banyak hal jahat memang mesti dilakukan dalam hidup ini supaya kita tidak menyesal.

Rabu, 14 Januari 2015

HP Baru Hening

"Januari, Januari yang biru
Asmaramu, asmaraku membisu."

Bukan sekali saja antara aku dan Hening mengalami pasang-surut percintaan. Kalau sudah kesulitan mencari jalan keluar, biasanya  kami memberi jarak. Memberi waktu sendiri. Biasanya yang lebih memiliki emosi negatif adalah aku. Bersungut-sungut dan marah.

Malam itu juga. Perang pecah antara aku dan Hening saat dia pulang ke rumah seperti biasa di Jumat sore, tiba-tiba dia sudah memiliki sebuah handphone (HP) android terbaru.
Seingatku kami sedang berhemat untuk membayar perbaikan rumah yang ingin kami alihkan menjadi perpustakaan. Tentu kehadiran gadget barunya membuat keningku berkerut. Apalagi melihat gelagatnya yang mencurigakan ketika aku masuk kamar, di atas tempat tidur dia sedang asik membaca sesuatu dari HP barunya lalu buru-buru mengetuk lembut layar saat melihatku masuk, kecurigaanku menjadi semakin runcing tatkala dia menjauhkan layar dari jarak bacaku.

"Itu HP siapa?"
"HP-ku lah, tadi aku beli di WTC."
"Lho, kan kita lagi banyak pengeluaran yang lebih penting. HP lamamu mana?"
"Tadi BBku rusak kena hujan."
"Kan masih ada yang satunya."
"Satunya gak bisa buat BBM-an."
"Lha terus, itu beli berapa?"
Hening menyebutkan rupiah yang bisa membuat kami punya kanopi baru untuk perbaikan rumah.
Aku mendengus kesal.
"Aku gak beli pake uang tabungan, kok," Hening menenangkanku.
"Terus, pake uang apa?"
"Dibelikan. Cuma tongsis dan pelindung HP ini yang beli sendiri."
Aku meliriknya. "Dibelikan siapa?"
Hening tersenyum simpul. "Rahasia," dia menjawab dengan jawaban yang jadi kata favoritku untuk menggodanya. Sayangnya aku sedang tidak mood digoda.

Aku kembali diam dan memperhatikannya mengutak-atik HP baru. Karena lama-lama aku bosan, akhirnya aku keluar dari kamar dan membaca koran di ruang tamu. Suara notifikasi BBM Hening yang berulang-ulang menggema dari dalam kamar membuatku ingin melihat notifikasi milikku sendiri, HP kuletakkan terbalik sebelumnya karena aku tidak mau terganggu oleh notifikasi yang muncul di layar saat sedang membaca.

Saat kuperiksa pembaruan pada BBM, status yang saling menimpali antara Hening dan seorang teman membuat kerutan di keningku semakin dalam. Apa-apaan ini? Batinku.
Di saat yang sama, Hening ke luar dari kamar dan berjalan menuju kamar mandi. Segera kumanfaatkan kesempatan ini untuk mencari bukti kecurigaanku melalui HP baru Hening.
Hambatan pertama kulalui dengan sukses, password di BB lamanya tetap dia gunakan untuk HP baru ini. Tantangan selanjutnya adalah di mana dia meletakkan BBM. Aku tidak pernah punya HP android, butuh waktu untuk menyesuaikan diri tapi aku tidak punya waktu untuk menyesuaikan diri. Aku harus tahu apa yang Hening dan teman kami bicarakan, dan kenapa demikian mencurigakan. Kusentuh gambar berbentuk rumah beratap dan HP Hening layarnya tak bergeming. Kusentuh lagi, tetap tak bereaksi. Kusentuh icon lain yang tampak di layar, yang muncul malah membuatku bingung. Kusentuh yang lain yang keluar malah video.

"Sayang?" Hening mengagetkanku. Wajahku pasi bagai anak kecil yang tertangkap basah sedang mencuri kue dalam toples. Hening terdiam di pintu.
"Kamu ngobrol apa sama Niken?" Tanyaku sambil meletakkan HP Hening yang baru.
Hening membisu, diraihnya HP supaya jauh dari jangkauanku. Bibirnya memaksakan senyum. "Sayang lagi PMS, ya? Kok hari ini moodnya jelek banget?" Hening mengalihkan topik dengan usaha yang aneh. Tentu saja aku semakin ngamuk.
"PMS? Kamu ngomong apa, sih, kok mendadak ada sangkut pautnya sama PMS? Nggak lucu, tau." Kerutan di keningku mungkin sudah menembus ke dalam otak, karena menahan amarah. Rasa capek setelah kerja ditambah gerak-gerik Hening yang mencurigakan hari ini membuat kepalaku mendadak nyeri.
"Aku ngobrol sama Niken tentang Bali. Kamu tahu kan kalau Niken pernah tinggal di Bali, jadi aku nanya-nanya," jawab Hening.
Dan aku tahu kalau mantanmu juga pernah tinggal di Bali dan pernah membelikanmu HP, tambahku dalam hati. "Emang kenapa dengan Bali?" Kejarku.
Hening menatapku. "Kalau aku bilang rahasia, kamu pasti marah...lho, yang, kamu mau ke mana? Aku belum selesai ngomong, nih..."

Aku tidak mempedulikannya. Aku benar-benar marah dan tak sudi mendengar penjelasannya. Kubanting pintu dan segera berjalan ke luar dari rumah. Mendadak satu atap dengannya menjadi begitu menyiksaku. Perempuan yang sudah sekian lama bersamaku mendadak menyimpan rahasia dengan terang-terangan. Apa yang ingin dia lakukan dengan rahasia itu? Apakah tahunan yang kami bagi sudah menunjukkan jalan buntu? Atau dia sudah kelelahan menekuni setapak yang tak jua mengarah pada kepastian? Tuhan tolong...

Aku tak tahu sudah berapa lama melangkah, tapi jalanan ini kuhapal betul. Di pojok sana ada rumah mungil dan tua milik sepasang suami-istri yang tinggal bersama cucu laki-lakinya. Mereka keluarga minoritas di kampung kami. Sang istri pernah membantu ibuku merawat bapak semasa beliau masih hidup. Mantan suster yang dulu membantu sebuah rumah sakit di kota, aku tidak tahu bagaimana ceritanya dia memiliki suami dan anak. Anak dan istri anaknya meninggal dalam sebuah kecelakaan, hanya tersisa satu cucu laki-laki yang mereka besarkan dengan penuh cinta.
Pintu rumah pojokan itu terbuka, seorang perempuan duduk bercengkerama dengan tetangga yang kebetulan lewat. Dia mengenaliku dan memaksaku mampir karena rindu. Atau karena butuh teman untuk melewatkan waktu menunggu cucu laki-lakinya pulang.

"Masuk, non. Ya ampun.. udah gede, ya, sekarang. Tambah cantik," katanya memuji.
Mau tak mau aku menyunggingkan senyum. Karena: satu, masih ada rasa terima kasih yang tak mungkin terbayar kepada perempuan ini dan, dua, kebetulan aku sangat menyukai teh buatannya, senang rasanya bisa mencicipinya kembali. Tak mengapalah aku bertamu sebentar, meski perasaan sedang lebam.
"Sekarang kerja di mana?" Tanyanya setelah menyajikan teh kebanggaannya. Aku menjawab pertanyaannya sambil buru-buru meminum teh paling enak sedunia itu. Kalau beruntung, aku bisa nambah tiga atau empat gelas lagi.
"Wah, sudah sukses, ya, sekarang?"
Aku tersenyum kecut. Pekerjaan ada tapi ada mimpi yang mesti dihidupi juga. Mimpi ini cukup MANTAP, kepanjangan MANTAP adalah meMAkaN TABungan. Dipaksa dikit lah singkatannya. Jadi suksesnya masih tertunda. Demi mimpi.

Perempuan itu bercerita tentang masa lalu. Cerita yang sudah kutahu. Sesekali kualihkan pandangan untuk mengamati pernak-pernik yang ada dalam rumahnya. Pohon natal yang masih terpajang, timba yang diletakkan di tengah ruang tamu untuk menampung air hujan, terisi sebagian oleh hujan tadi pagi dan aku yakin perempuan ini sedang menunggu cucunya untuk membantunya membuang isi timba.

Lama kemudian, cucu laki-laki perempuan itu akhirnya menampakkan batang hidungnya. Kudengarkan bagaimana dia menegur cucunya dengan penuh kasih karena pulang terlalu malam. Aku tersenyum dan teringat bapak. Lalu teringat Hening. Apa Hening juga sedang menungguku pulang dengan cemas?

Aku meraba saku celana dan bersyukur punya kebiasaan mengantongi uang dalam jumlah cukup. Persiapan supaya tidak kebingungan kalau suatu saat lupa membawa dompet. Aku ingat bahwa Hening dan aku sedang berhemat, tapi bila Hening boleh mengeluarkan uang untuk membeli tongsis dan pelindung HP barunya, kenapa aku tidak boleh mengeluarkan uang untuk tujuan yang mulia? Aku beranjak pamit dan menyisipkan sejumlah uang ke tangan perempuan itu. Terima kasih untuk teh yang sejuta kali lebih hangat dari teh botol favoritku. Suara Andi Meriem Mattalatta yang menyenandungkan Januari yang Biru semakin lamat-lamat di telingaku saat berjalan menjauhi rumah pojok. Aku pulang dan bersiap menghadapi tiap kemungkinan yang bisa terjadi antara aku dan Hening.

Rumah begitu sunyi saat aku kembali. Dalam kegelapan kulihat Hening tertidur di sofa ruang tamu. Aku masuk tanpa suara. Setidaknya aku berusaha begitu. Tapi Hening lebih hening dariku, lampu mendadak menyala dan dia sudah berdiri di belakangku.

Dia meletakkan HP barunya, kini layarnya dalam jarak bacaku. Kubaca banner bertulis SepociKopi dalam Google Chrome di HP barunya.
"HP ini dibelikan bosku untuk hadiah akhir tahun. Semua staff juga diberi," Hening membuka pembicaraan. "Kamu ingat kamu pernah bilang pingin liburan kayak salah satu penulis dalam SepociKopi di Bali?" Hening menatapku. Keletihan dapat kubaca di wajahnya.
Aku mengangguk. Aku juga ingat kalau penulis itu sekarang naik pangkat jadi pemimpin redaksi SepociKopi.
"Kamu juga ingat kalau kamu pingin ngerasain liburan ala 'Glamping'?"
Aku mengangguk lagi mendengar pertanyaan Hening.
"Niken dapat diskonan dari koleganya yang masih di Bali. Dan dia menawarkannya padaku. Untuk hadiah buat kamu, kamu tahu kan kalau Niken itu selalu ndengerin apa yang kamu omongin? Termasuk keinginanmu untuk liburan ke sini, ke sana, ke mana-mana. Aku harus membagi duitku jadi lima tiap bulan untuk: pertama, kalau kamu mendadak ngidam makanan yang aneh-aneh dan nggak murah..." Aku mendengar ceramah keuangan Hening dengan takjub. Itu bukan kali pertama aku mendengar ceramah keuangannya, tapi ini untuk pertama kalinya kudengar dia dengan terang-terangan mengatakan menabung untuk menyenangkanku. Aku menunggunya menyelesaikan unek-unek yang terpendam.
"Dan kita baru bisa liburan 2017, aku gak bisa ambil diskonan Niken. Tabunganku kurang," pungkas Hening.
"Oke."
"Oke?" Hening heran. Biasanya aku tak sabaran. Kalau mau liburan, ya, ayuk liburan, gak usah nunggu-nunggu, keburu mati.
"Jadi gapapa 2017?"
"Iya, gapapa." Aku mengambil HP baru Hening. Tersenyum pada tulisan dalam layar. Kudengar Hening mendengus lega.
"Tahu enggak, SepociKopi ultah ke delapan tahun ini," kata Hening saat ikut menatap layar.
Aku sudah tahu, kataku dalam hati, aku mengikuti SepociKopi sejak tahun pertama sampai bertahun-tahun kemudian. SepociKopi pernah memuat surat-suratku dan menjadi teman di masa sulit yang pernah kualami. Menjadi sumber ide bacaan, juga laksana tepukan lembut pada bahu untuk mengingatkan agar berjalan terus menuju masa depan.
"SepociKopi itu berawal dari pasangan lesbian, lho, yang. Seperti kita," Hening memberikan informasi yang tak tercatat di tulisan dalam 'Sejarah Kami'.
"Kalau kubilang gak ada pasangan yang seperti pasangan pendiri SepociKopi itu, apa kamu percaya, yang?" Tanyaku sambil mengulum senyum. Tuhan menciptakan satu ide yang unik di kepala tiap manusia. Ide itu bisa beranak-pinak atau mati. Ide itu unik dan terjaga di kepala Alex dan Lakhsmi.
Hening menatapku tak mengerti. Aku juga tak mengerti apa yang baru saja terpercik dalam pikiranku. Hal itu tak menggangguku. Yang lebih mengganggu adalah suara Andi Meriem Mattalatta yang samar-samar kudengar kembali dengan misterius.

"Januari, Januari yang biru
Asmaramu, asmaraku membisu."

Aku tersenyum dalam pelukan Hening. Januari adalah kali pertama aku mengenal SepociKopi. Januari adalah kali pertama aku dan Hening kembali bertemu setelah berpisah untuk sementara. Ada begitu banyak kisah di Bulan Januari. Dalam hati aku berjanji, akan membuat Januari-Januari berikutnya menjadi biru yang menghangatkan banyak hati, seperti yang telah diberikan SepociKopi.

Selamat ulang tahun SepociKopi. Selamat bertugas dewan redaksi yang baru.

Selasa, 09 Desember 2014

Kepada Penutur Gelisah

Ini airmata bukan buat cinta

Kuulurkan tangan buat gadis yang tak bisa memaknai sendiri
Dan aku tak ingin berharap kau membalas rasa yang berusaha kuredam
Aku tak ingin berharap apapun kepada siapapun kamu

Sebab aku tak sabar untuk mencintai orang yang mencintaiku
Bukankah September sudah berlalu?
Kusadari janji cumalah pemanis mimpi

Ini airmata bukan buat cinta
Terlebih, bukan untukmu

Jumat, 04 Juli 2014

World Cup 2014

On 2010, I was angry and resentful, Italy had been knocked out of the World Cup.

And the nightmare is still going on in 2014. God!

The fact that I love this country more than the football game does help much. Italy is a beautiful country; her buildings, her cities, her como, her mysteries. You can read in the book history about plague and the haunted island. They have stunning seaside towns perched over the cobalt blue Mediterranean. They still have the cobblestone street from Roman time. Feel the romance while you ride a Gondola with your partner. I just love Italy.

I'd like to go there with Heningswara someday.

Jumat, 30 Mei 2014

Sorry

I'm sorry for the late up date. It's not that I will write any worthy up date. I'm just telling you that starting from last month I have a very tight schedule because I wish to graduate next year.

That will affect my productivity, too, to write this blog I mean.

Okay, see you on the next up date.

Minggu, 23 Maret 2014

Glee 5, Brittana Endgame? And BFF?

Because I hate the new (NY) Santana, I don't watch Glee as much as I did. But the 100th episode promotion told me there would be Brittana.

Yeah. but still, I don't like it.

I'd rather see Arizona and Callie's struggle than Brittana. Or Bo and Lauren's.

There is a funny news from the newspaper, in Michigan 300 gay/lesbian couple marital state are unclear. The government stopped the gay married after allowing it for just, one day? Or less.

Damn shit, you are.

Do you remember that I wrote about BFF? My ex BFF (I don't really like this term) mesagged me that her mom was wheeled into my city's hospital ER. She asked if I was free, and I said yes, I was and if she needed me, I'd come to help.

The next day, knowing that her mom was in Intermediate care, I came to the hospital in a rush after attending a morning report. Alfin wasn't there. I talked to her big sister and her mom, grateful that she was in a good condition after hemodialysis procedure. I waited an hour or more and then we met.

I had no fucking idea that she was pregnant. Her second child.

She asked me, when will I follow her, being married and pregnant. She knew my orientation, we had kissed in the past and now she's asking me to marry a man and get pregnant?

Hey, n1n, when will you become a straight one?

Straight my ass.
I wondered why I came this far, keeping a BFF term for her but from the day we had started to know each other up until now I didn't think she understand me.

In a mild sarcasm I told her that it I do not want to follow her path. She told me, you never change. So I told her that I didn't understand why she had texted me last year and telling me that I'm changed if right now she told me that I'm still the same person she used to know. Why she'd texted me that, and the fact it was her who had changed.

She couldn't answer me. I was so disapointed, I felt that I'd rather never had this conversation and let her judge me as she wish.

After parting, she texted me that I never change. I didn't reply it. I said to myself, people didn't change. They evolved.

But I don't think she'll understand it.

Sabtu, 01 Maret 2014

Yang Malam Mingguan Sama Pacarnya Kudoain Putus...

Demikian, serangan umum satu Maret kukerahkan pada seluruh khalayak yang berpacaran malam Minggu ini.

I have a blue Saturday night, it means today. No partner and no friends. Erna is busy, went back to her hometown to prepare her wedding ceremony. Nick is busy, she's getting close with her fellow worker. Heningswara is out somewhere. I was thinking about go to the cinema alone but, the rain made me stay at home. Alone. So, I'm updating my gadgets and during the heavy rain the wi-fi works slowly.

So, I'm wandering around, in the internet I mean.
There's no good fan fiction I found to read, so I'm just surfing from blog to blog. Damn, I'm craving for some rum raisin ice cream and only find Teh Botol in my refrigerator.

I should've read my textbooks, but I'm in a very bad mood.

Although it's raining but the temperature in my house rises, my elementary school friend messages me via Facebook and I'm only replying her with one or two words. Cool? Nop. I feel sorry for her, she is just a nice friend that said hello but instead of getting a nice and warm reply, she only got my tantrums. Yeah, and she's asking about my father whereabouts. I said, daddy's gone.

I'm thinking about writing this blog in English from now. I know I'm not good in using this language, but I'd like to learn and be more friendly to the non-Indonesian speaker.

Back to my elementary school friend, she told me that my ex now's a policeman. He moved from his old house (I knew it years ago, when I passed his house and found the building he used to live had already gone), and she asked me if I know something about him.

A couple years ago, he contacted me in sudden, asked me if I'm home. He took me out to the cinema and we're watching a weird movie about a killer from the orphanage (I don't really remember about the plot). After we went out, he texted me, about I'm being his first love, etc. Frankly, I don't even remember being in love with him. I knew him long ago, before I knew what is love, and I feel safe with him. He was a good man, and I don't want to hurt his pride. So, I said no and asked him not to waste his time (on me). I don't want to share this story with other friend who knows him, it's between me and him. But he never mentioned about joining an army or other that time.

I'm getting used to attending my exs's wedding day. I'm not surprised if one day the policeman asked me to come to his.

So, a sudden idea bursts in my mind, how about we're making a reunion. This isn't a fresh idea, me and some fellow alumni talked about it when we're attending our teacher's death ceremony. This is a very heavy duty, since we got no yearbook and even though we had, some friends might be moved from their old addresses. Yeah, may be we would had difficulties, but I'd like to put it in my agenda for the next year.

Ok, I think I had enough babbling.

Kamis, 23 Januari 2014

new year new passion?

Sejak akhir tahun kemarin, aku memilih lebih banyak membaca. Diariku kosong, mungkin sebagai mekanisme pembelaan ego, ada satu lubang besar di hatiku sepeninggal Bapak dan aku belum tahu bagaimana mengatasinya. Januari ini adalah bulan ketiga masa penyesuaian diriku, dan aku merasa banyak dari diriku yang terpendam mati bersama Bapak.

Salah satunya adalah keinginanku untuk menulis. Biasanya aku orang yang mampu mengatasi kekeringan ide, tapi kali ini aku benar-benar tak punya napsu untuk menulis. Tulisanku cuma tentang ilmiah saja, seolah ada prioritas yang bergeser dalam hidupku yang selama ini mencintai fiksi. Aku kerajingan buku-buku ilmiah dan itu mematikan imajinasiku. Saat aku coba menulis kelanjutan Kereta Malam, aku berhari-hari hanya menatap iPad dan berharap bisa membaca buku ilmiah kembali. This isn't good, aku tidak pernah punya ambisi tentang kehidupan pendidikan formal, dan aku merasa hidupku seimbang membaca mimpi-mimpi dan cerita-cerita indah milik orang lain. Puisi.

Karenanya aku memutuskan kembali ke fanfiction. Ku putar kembali anime seri MaiHiME, MaiZHiME sampai OVAnya. Kannaduki no Miko. Banyak yang terlewat olehku, yang baru tertangkap kali ini di panca indera. Banyak ide, tapi tak satupun dapat kutulis. What the hell?! Apa gunanya banyak ide kalau gak bisa nulis karena gak bisa menuangkannya. Ide bisa pergi, bisa buyar, bisa lenyap, tinggal aku yang ngaplo menyanyikan, "ide jangan kau pergi tinggalkan diriku sendiri, ide jangan kau lari..."

Barangkali karena sudah lebih dari 25 tahun bersekolah, aku bosan juga dengan prestasi sekolahku yang biasa-biasa saja. Tapi sekolah memang tak pernah menarik buatku.

Okelah, coba kupaksa diri membuat beberapa cerita pendek atau puisi. Sekarang, aku mau belajar dulu, cie...

Kamis, 13 Juni 2013

BFF (Best Friend Forever)

Sebuah short message sampai pada mobile-ku, dari seorang teman, bisa dibilang sahabat, sejak SMP (Sekolah Menengah Pertama).

"sbuk bngt ya? g da wktu luang gtu? sometimes I want 2 see cz I know we r best friend ever, but I was afraid if we'r not feel the same (:-[ ashame)"

Sesungguhnya aku tidak mengerti maksud dia apa.

"We're fine this way. Onok opo to pin?"

Jawabanku tidak dibalasnya.

Aku selalu merasa, she's trying to reach for me. Dulu di SMP aku yang berusaha reaching for her. Tapi, rupanya, dia lebih cocok bersahabat dengan orang lain, dan aku berusaha legowo saat dia lebih dekat dengan Heni. Mereka sebangku, rumah bersebelahan. Secara fisik dan mental, Heni lebih nyata karena dia dekat. Aku dan dia beda kelas.

Selepas SMP, dia ke luar kota, sukses dengan organisasi yang digelutinya sejak SMP. Organisasi yang sama kami geluti bersama di SMP tapi aku tidak berminat lagi di jenjang selanjutnya. Aku ilang feeling -ilfeel- sama yang namanya organisasi siswa sejak terancam drop out di SMP. Bukan karena raporku merah, mulutku ini tak bisa kujaga.

Memang tak salah kalau seandainya dia bilang aku berubah. Sejak kejadian aku menciumnya saat kuliah, itu membuat cara pandangku berbeda pada persahabatan. Aku, pasca kejadian itu, bersumpah palapa bahwa aku takkan jatuh cinta pada sahabatku lagi. Aku memperbaiki diriku sendiri dan belajar memaafkan diri sendiri untuk waktu yang lama. Waktu yang kuberikan pada diriku sendiri dengan menghindarinya. Pesan-pesan lewat mobile yang kubalas singkat, padat, jelas, seolah kami dua orang asing sudah pasti membangkitkan luka, sebab dulu aku orang yang selalu mencambuknya untuk maju, menamparnya dengan kenyataan, menepuk bahunya untuk bangkit saat dia jatuh. Aku hampir selalu ada dan mengulurkan tangan di saat dia butuh. Lalu, aku berubah menjadi orang yang tidak lagi bisa dia andalkan.

Aku melakukan semua hal di atas bukan karena aku jatuh cinta padanya sejak awal. Aku cuma penasaran bagaimana "rasa" sahabat. Dan hal manis kudapatkan dari dirinya sebelum dia menolakku. Bukan menolakku sebagai kekasih, aku tak pernah menginginkannya demikian. Aku merasa dia berubah lebih dulu daripada aku. Juga kenyataan bahwa kami ternyata tak sedekat itu, sebagai sahabat maksudku, di SMP. Kemudian dia menuduhku berubah, menjadi perempuan yang sekarang ini jauh darinya, dan mengatakan ini-itu tentang bagaimana seorang sahabat seharusnya.

Aku tak sepakat.
Sesungguhnya, aku menyukai diriku yang sekarang. Hubungan yang stabil, dan sahabat-sahabat yang saling membantu. Saling membantu, bukan satu sisi saja.

Kalau boleh kutanyakan, ke mana dia saat aku terancam drop-out dari SMP kami, ke mana dia saat aku berusaha memahami kelesbiananku -saat aku menciumnya, kebingungan pasca kejadian itu, dan mesti memagari hati dari para sahabat-, ke mana dia saat aku limbung dan linglung, lalu melakukan hal-hal bodoh, ke mana dia saat kekasih laki-lakiku mengkhianatiku, alasan apa yang akan dia utarakan padaku? Aku berubah, ya. Lebih pada cara pandangku menyikapi persahabatan.

Aku tak memahami arti "selamanya".
Sesungguhnya mereka-mereka yang kuanggap sahabat berakhir meninggalkanku, lalu aku meninggalkan mereka. Sering, kami lebih memilih tidak membicarakannya, tiba-tiba menjadi orang asing, dan aku tidak keberatan kehilangan orang-orang yang kukasihi. Hubungan itu, persahabatan maupun cinta, sering seperti meteorid, berpijar terang di satu waktu lalu padam selamanya. I'm in a process, takkan kubiarkan satu orangpun menghalangiku untuk belajar menjadi besar. Belajar legowo dan melepas pergi. Belajar merelakan sesuatu yang kita inginkan, tapi ternyata tak baik untuk kita.

Kita baik-baik saja di titik ini, Pin. Aku masih seorang sahabat bila kamu mengira aku demikian. Hanya saja paradigma yang kupilih berbeda dengan saat itu. We are best friend, and best friend we shall be.

Jumat, 11 Januari 2013

Sepocikopi jaya!

Rutinitas adalah pengabur jejak waktu yang paling mujarab. Sering kali, dengan rutinitas yang bertubi-tubi, 24 jam tak cukup buatku.
Seperti hari ini, saat aku mendapatkan email dari Sepocikopi, terus terang aku kaget. Aku tak pernah merasa diriku adalah kontributor tetap, hanya menulis sesempatnya, semoodnya, dan se-se yang lain yaitu melihat kondisi dan situasi yang ada. Dalam hati membatin, aku punya tugas bejibun yang belum kuselesaikan, Sepocikopi meminta satu tulisan untuk tanggal tertentu dengan tema ulang tahunnya. Kalau sehari lebih dari 24 jam, bolehlah, masih membatin dalam hati.
Lalu aku berpikir ulang kembali, berapa banyak orang yang beruntung seperti aku? Menjadi bagian dari sederet penulis yang ditunjuk untuk memberi warna jendela elektronik di majalah online yang menyatukan dan menjadi panutan  demikian banyak lesbian di nusantara (bahkan mungkin di luar juga). Aku punya satu kolom yang bisa kumanfaatkan mencurahkan rasa terima kasih dan doa panjang umur untuk majalah yang sudah menemaniku selama enam tahun ini, bukan cuma sederet doa pendek di ruang komentar. Jadi, mengapa tidak. Belum sampai satu jam kubaca email tersebut, aku langsung menulis.
Kembali ke rutinitas, beberapa saat yang lalu  di hari raya Idul Fitri, aku merenungkan satu hal yang belum sempat kutulis di manapun. Renungan yang sempat terlupa karena rutinitas, dan kebetulan  cocok untuk tema ulang tahun Sepocikopi.
Di sela liburan hari raya itu aku mengunjungi rumah kakak ipar yang berada di desa daerah Babat yang menuju ke arah Jombang. Di Kecamatan Mada. Konon, menurut orang-orang di sana dulu pernah lahir seorang bocah laki-laki bernama Gajah. Gajah itu demikian terkenal, terutama di jaman Majapahit hingga sekarang dengan sebutan Gajah Mada. Gajah yang berasal dari desa Mada.
Entah itu sejarah benar atau tidak, aku tidak terlalu ambil pusing. Ada hal yang membuatku sudah pusing dengan berada di sana. Jangan bayangkan desa itu selalu hijau, berhawa sejuk, air jernih melimpah. Hijau iya sih, tapi hawa sejuk dan air jernih? Ngimpi!
Jalan gang yang penuh kapur dan selalu dilewati sepeda motor atau mobil membuat sesak jalan nafas. Air  yang harus ditampung terlebih dahulu beberapa lama agar tidak keruh, yang membuatku malas untuk sikat gigi. Ini bukan bayangan desa makmur.
Barangkali beberapa ratus tahun yang lalu, saat Gajah menjadi pemuka pemerintahan Majapahit, desa ini maju dan menawan. Masa keemasan yang ditelan oleh waktu. Waktu memakan apapun, kedigjayaan dilahapnya habis.
Ada perjuangan yang mungkin sama seperti perjuangan Gajah dan sumpah Palapanya. Barangkali kubayangkan Alex, Lakhsmi, Ade Rain, Bening dan penancap tonggak Sepocikopi lainnya bersumpah takkan menikmati kenikmatan dunia sampai berhasil membuat bacaan berkelas untuk lesbian nusantara. Namun, perjuangan yang lebih sulit adalah mempertahankan masa emas yang ada. Menyadari hal yang abadi adalah perubahan, satu demi satu perubahan, perombakan, mengikuti animo demand pembaca sambil tetap menjaga mutu tulisan adalah hal unik yang membuat Sepocikopi tetap dibanggakan.
Enam tahun yang lalu, aku hanya penikmat tulisan Sepocikopi, punya banyak waktu lengang tanpa keinginan untuk menjadi salah satu penulis. Memberikan informasi ke sesama lesbian tentang majalah lesbian ini sambil lalu. Enam tahun kemudian, aku menulis ini, merasakan kesabaran Sepocikopi menunggu dan mendidik pembacanya untuk memberi kontribusi mulai hal yang sederhana, tulisan tentang kehidupan sehari-hari, sampai hal yang bersinggungan dengan orang lain seperti bakti sosial SKSurabaya beberapa waktu yang lalu.
Akan tumbuh orang-orang seperti aku, memberi kontribusi di kemudian hari. Terus dan terus, menjaga masa emas ini berlangsung lama. Semoga Sepocikopi diberi kekuatan untuk selalu membuka jalan, memberi inspirasi, pengetahuan, menjadi teman dan jendela untuk masa depan tanpa batas.
Jayalah selalu, Sepocikopi!

Rabu, 24 Oktober 2012

"kapan nikah?"

Beberapa hari ini, pertanyaan tentang "kapan nikah?" sedang jadi topik hangat di sekelilingku. Tentunya pertanyaan itu ditujukan padaku. Bahkan kakak kelas yang sama belum menikah juga menanyakannya, kadang kuputar dengan balik tersenyum dan menggoda. Atau hanya kuangkat alis kiri sambil ketawa ala mak lampir, tak berusaha keras mengalihkan topik.

Hampir seluruh teman yang menanyaiku itu berdecak penasaran, laki-laki mana yang akan mendampingiku kelak. Barangkali mereka paham, setiap aku naksir seorang laki-laki maka 90% kecenganku itu sudah beristri. Sengaja. Atau tidak sengaja. Sering dituduh asal tunjuk yang oom-oom, yang sedikit tambun dan atau yang di lengannya duduk seorang balita, saat aku ditanya tentang tipe laki-laki yang kusukai. Aku tak suka berkelit dengan berbohong, aku benar-benar suka laki-laki perut buncit untuk dipeluk.

Sering kali aku bersahabat dengan perempuan yang punya percik-percik lesbian di tatapannya. Menggodaku, "pasti kamu suka aku, makanya kamu betah gak nikah," atau, "kamu naksir aku, kan?" yang kubalas dengan sama genitnya. Dan tersenyum.

Perempuan punya berbagai macam senyum, sering memilih tersenyum pahit saat marah atau kecewa. Kita bisa berlindung dari godaan pertanyaan, "kapan nikah?" dengan senyum. Tak perlu mematahkan topik dengan berlagak, "awas ada UFO," atau lari tunggang langgang. Tak perlu membalas dengan pilihan kata mulai yang pedas cabe 1 biji sampai 7 biji. Barangkali tak perlu berkelit atau berbohong, kenali lawan bicara dan bila tak bisa maka tersenyum saja. Mulai sekarang berlatihlah tersenyum berbagai ekspresi, senyum murung, senyum lega, senyum menantang, senyum pas-pasan dan sebagainya.

Sebagai contoh, bila oom yang keren menanyakan, "kapan nikah?" segera beri senyum lega sambil ditambah bumbu, "saya kira oom nggak tau saya single. Sekarang tahu, 'kan?" dan kedip-kedipkan kelopak mata. Atau kakak kelas yang menyebalkan bertanya, "kapan nikah?" beri senyum murung seakan baru ditinggal mati seseorang penting, bila perlu titikkan airmata agar dia keki. Paling tidak untuk jangka waktu setahun dia tidak akan mengganggumu.

Sedikit repot kalau menikah adalah tuntutan orang tua. Beberapa orang beruntung punya orang tua yang berpikiran terbuka, sebagian lain beruntung dengan orang tua yang prihatin anaknya tak laku-laku. Mulai pasang iklan, "dicari: suami," ke tetangga, teman arisan sampai saudara-saudara jauh bahkan minta ke teman perempuan yang sering dibawa anaknya ke rumah (yang ternyata pacar anaknya) untuk mencarikan calon. Belum lagi bila permintaan cepat nikah itu dilakukan orang tua sambil menangis, menyertakan penyakit ini-itu atau usia. Lantas, kita mau berkelit apa?

Senyum dulu, kuberi tahu sebuah rahasia. Kebanyakan teman-teman lesbianku yang menikah dengan terpaksa, untuk status palsu, berakhir melukai laki-laki. Jangan pernah berpikir menjadi korban cinta setelah terpaksa menikahi laki-laki yang tidak dicintai. Barangkali justru keputusan egois agar selamat dari terpaan badai topan pertanyaan, "kapan nikah?" -lah muasal bencana sebenarnya. Atau berkelit dengan alasan "asal orang tua bahagia." Semua bermula dari diri sendiri, berkaca dan bertanyalah, menikah untuk membahagiakan diri atau orang lain?

Aku bukan orang yang menampik usulan menikah dengan laki-laki, tapi bukan untuk menyelamatkan muka atau demi orang lain. Aku orang yang punya cita-cita menjadi bahagia, bukan sekedar mimpi. Bahagia tidak terikat pada unsur perempuan atau laki-laki. Bahagia sering kali diwujudkan secara sederhana dengan senyuman.

Tersenyumlah untuk sebuah jawaban yang sederhana, sedikit rumit atau luar biasa membingungkan. Pernikahan adalah sesuatu yang penuh kejutan dan rahasia: dengan siapa, kapan dan di mana. Kulumlah sebutir senyum untuk pertanyaan, "kapan nikah?" -mu sambil ucapkan mantra dalam hati: I have secrets, I won't share.

Senin, 02 Juli 2012

sepuluh tahun lagi

Seringkali saat aku mengatakan bahwa aku tidak tertarik dengan komitmen. Aku hampir-hampir setuju dengan Bilangan Fu milik Ayu Utami tentang mengerikannya hubungan dengan perempuan, walau gambaran Utami lebih membuat bulu kudukku merinding (selain mengerutkan kening).

Jadi, perjalananku dengan partner selama 6 tahun ini membuatku lumayan heran, apa yang membuatku mau menghabiskan masa mudaku dengan setia kepada partner?

Mulai dari usia sepertiga awal dua puluhanku sampai sepertiga akhirnya, banyak peristiwa, ada yang sedih, banyak yang gembira, kadangkala datar. Begitu menghindari komitmen, aku sampai bilang pada partnerku di awal perjalanan kami, jika sepuluh tahun lagi dia masih mencintaiku, aku pasti akan kembali padanya (jika kami waktu itu sudah putus). Dengan syarat dia mengirimiku tiket ke Bali untuk menjumpainya di sana (aku berniatan awal untuk lari sementara dari pekerjaanku, apapun kerjaku sepuluh tahun yang akan datang, dengan tiket gratisan ke Bali dari partner -aku yakin dia tidak keberatan).

Aku tertawa dalam hati, dengan cowok aku bisa bertahan tujuh tahun, dengan cewek sebelumnya cuma satu setengah tahun, tentu aku pesimis dengan hubungan sesama perempuan. Pesimis dan ogah berkomitmen, untuk apa menghabiskan waktu menepati janji pada seseorang yang tidak ada di masa depan kita?

Tapi jangan pikir aku akan menulis tentang aku dengan partner. My relationship is something I don't want anyone to interfere. Hanya saja aku menekankan kata "sepuluh tahun lagi" yang kuterapkan pada partner, yang akan kujadikan pokok tulisan.

Bermula dari seorang, yang kuduga lesbian, datang bersama ibunya ke ruang Triage sebuah rumah sakit. Usianya barangkali dua puluh satu, dengan keluhan panas badan. Saat memeriksa nadi di pergelangan tangan, kulihat beberapa bekas luka di sana. Percobaan bunuh diri. Ibunya sedang bicara dengan dokter ketika kudekati dia, kubalik tangannya hingga telapak menghadap ke atas, kuraba jaringan parut miliknya. Dia tertegun. Aku seksama mengamati luka lamanya yang kehilangan warna, bertanya padanya lewat tatapan. "Sayang, apa yang kau lakukan pada dirimu sendiri?" bisik mataku pada matanya, bibirku melengkung sedih. Aku seperti merasakan dia perlahan membuang nafas yang tak sengaja tertahan.

Mereka yang datang ke sini kebanyakan ingin hidup lebih lama, ingin mengembalikan tubuh ke fungsi semula dengan berbagai cara. Beberapa datang dengan sia-sia, beberapa datang dengan menyia-nyiakan hidupnya. Aku terperangkap menjadi sosok yang dipercaya manusia menjadi perpanjangan tangan Tuhan, menyelamatkan manusia lain. Sementara jauh dalam hatiku, aku tahu aku mungkin melakukan hal sebaliknya.

Begitu heran dengan anggapan apa-apa yang dilakukan sosok-sosok yang berprofesi mirip denganku adalah sosial, sementara aku sering memalingkan muka dari kata "tolong". Aku tak menuntut ilmu dari belas kasihan orang lain, kadang mereka memaki bahkan meminta pertanggungjawaban saat aku salah, apa aku tak layak melayani mereka dengan ketus? Jangan harap aku berpikir pembeli adalah raja.

Tapi hatiku lebih cerdik rupanya dari otakku. Dasar perempuan. Ternyata 80% mereka 'sembuh' dengan senyuman, perhatian dan pengertian. Dengan formula itu, kerumitan tak lagi panjang. Jadi aku berniat menerapkan formulasi yang sama pada perempuan di Triage ini.

Perempuan, berapa banyak yang berpikiran untuk menghabisi diri sendiri, bukan cuma melukai? Aku jadi salah satu yang akan tunjuk tangan bila seseorang bersedia memanggil nama melakukan presensi. Akan kujadikan diriku contoh sempurna perempuan yang terbelit-belit dalam lingkaran abu-abu yang tak hanya punya satu degradasi warna. Malaikat, lesbian, anak perempuan yang bermuka dua, malaikat maut, fobia komitmen tapi begitu mencintai pasangan, perusak persahabatan dan perebut istri orang. Itu hanya sebagian kecil, percayalah. Dan bila sepuluh tahun yang lalu aku memutuskan untuk mengakhiri perjalanan hidupku di dunia, aku takkan tahu jadi apa aku dalam sepuluh tahun kemudian.

Sepuluh tahun lalu, mengetahui aku jatuh cinta pada sesama perempuan, menghadapi ujian masuk perguruan tinggi padahal aku tak tahu jurusan apa yang kumau, mendapati teman-teman sibuk menjalani hidupnya sendiri selepas sekolah menengah, mendengar setiap hari tentang keinginan ini-itu orang tua dan orang-orang dekat, membiarkan orang lain memutuskan jalan untukku, takut akan masa depan, berkali-kali bertanya sendiri "mau dibawa ke mana hidupmu, n1n?", dan tak punya satupun teman dekat untuk berbagi membuatku berpikir bahwa bunuh diri adalah jawaban tepat untuk semua pernyataan remuk redamnya hati di atas. Dan sepuluh tahun setelahnya kudapati itu adalah perbuatan yang konyol karena aku punya segalanya di usia ini.

Itulah form berikutnya yang akan kubisikkan dengan hati-hati, dengan segenap perhatian, pengertian dan sedikit senyum kecil dibalut keprihatinan kepada perempuan yang kuduga lesbian itu, "Apapun yang terjadi pada hidupmu, semenakutkan apapun ke depannya, seburuk apapun situasinya, sepatah hati apapun perasaanmu dan sebahagia apapun yang kau rasakan, berjanjilah memberi dirimu sendiri waktu sepuluh tahun lagi, sebelum menarik pelatuk menembak diri sendiri atau mengiris nadi."

Sebab sepuluh tahun yang lalu, akulah perempuan di Triage itu.

Rabu, 11 April 2012

merokok

merokok. barangkali sebagian besar orang menghujat rokok. bahkan ada yang ribut ingin memasukkannya dalam list narkoba golongan I karena efek adiksinya. tapi aku pribadi, im glad rokok hadir di kehidupan manusia.

saat aku sekolah untuk mendapat titel di depan namaku, aku sering menghadapi kematian orang lain. setiap kematian, aku selalu sibuk menyalahkan diri dan mood menjadi rusak. sering marah. sering kecewa. aku punya solusi saat itu, sebatang rokok untuk suatu kematian. aku menjadi lebih tenang. somehow, it puts me at ease. tapi aku juga tidak berakhir dengan menjadi kereta api beberapa tahun terakhir saat aku menghadapi kematian setiap hari, malah aku berhenti merokok. aku cuma merokok kalau rindu, kalau suasana hati tak tenteram, kalau sedang ingin sendiri, kalau gelisah. dan aku tak suka kopi.

rokok mencegah demensia dan parkinson, berlaku untuk laki-laki. perempuan? tak bermakna, konon katanya karena hormon.

barangkali semua tergantung kebijakan kita sendiri memakai sesuatu. seperti rokok, yang maunya dimasukkan, narkoba golongan I. terlepas betapa rokok menghidupi hajat hidup orang banyak (prostitusi dan narkoba juga menghidupi, lho!), reaksi kimia yang terjalin antara zat-zat dalam rokok dengan neuro transmitter/reseptornya memberi semacam suntikan energi tambahan (kata erna itu cuma sugesti! berani sekali dia membantah aku, hahaha, kuhajar dengan teori nikotin dan reseptornya di tubuh kita, sebagian yang dijelaskan seorang guru besar sebuah perguruan tinggi yang pernah kudengar materi kuliahnya). kayak minum kopi, orang yang biasa minum kopi maka sehari tak minum akan lemas (sialnya sebagian besar teman kerjaku adalah peminum kopi, mereka yang berhenti cuma untuk alasan hamil), tak bersemangat, dan sebagainya. efek palpitasi akan memicu kita untuk bergerak dan bergerak, mirip ecstacy/ekstasi. godek terus, yuk, oom erna. hehehe, teori asal-asalan. aku? minum kopi segelas dan berakhir kalau tidak semaput karena palpitasi atau kebanyakan gerak, ya karena migrain (padahal dalam obat migrainku ada caffein nya, aneh bukan?).

ya sudahlah, tampaknya semakin malam semakin ngelantur. erna sibuk nggebet mantan dan aku mantengin komputer dengan mouse yang sudah lecek punya kantornya. rupanya kantor erna ini punya satpam baru: dia. hahaha. ngekos kok di kantor.

Selasa, 03 April 2012

Namanya Ayu Utami

Jadi aku di sini, setengah jam sebelum hari ulang tahunku berakhir, setelah curhat berdarah-darah pada Alex kenapa aku tidak bisa menulis lagi dan sehabis teman-temanku plus partner mengadakan konferensi meja kotak di sebuah kafe di bilangan Hayam Wuruk membahas atau berdebat seru tentang impian. Aku tentu tidak ikut ambil bagian dalam perdebatan itu karena, alasan sederhana, I don't do dream.

Demi memuluskan langkah partner mengikuti SepociKopi 30 Day Challenge, aku duduk berjam-jam, berganti-ganti posisi kaki dan tubuh, Bilangan Fu di tanganku. Buku setebal 500 atau 600 halaman itu kubalik lembar demi lembar, bisa saja kuselesaikan seharian tapi aku bukan pengangguran, dengan jadwal rutinku yang padat bin membosankan, jumlah halaman itu dalam 7 hari membuatku ingin mencekik biang kerok pencetus tantangan ini.

Dan dengan kurang ajar, si biang kerok itu juga tadi menyuruhku berhenti menulis. "Saranku? Berhenti nulis," itu kata-katanya kalau aku perlu mereka ulang lewat chatting.

Jengkel dengan chatting, yang teks maupun yang denger (teman-teman yang konferensi tadi masih berapi-api membahas mimpi, mereka duduk dan memesan ini-itu padahal aku tidak sedang mentraktir mereka), aku tenggelam pada huruf demi huruf yang dilontarkan Ayu Utami dalam buku bersampul cokelat itu.

Dari pengarang yang menyebut diri sendiri Katolik nggak beres inilah, aku pertama kali bersinggungan dengan dua orang penggemar buku di SMA ku. Yang satu guru Bahasa Indonesia, yang satu cowok IPA3 yang sama-sama kelas 3. Lewat novel berjudul awal Laila tak Mampir ke New York, guruku meracuniku yang memang tidak suka sains tapi terjebak di kelas IPA, dan membuatku menjalani masa kritis agama dan masa negativisme (yang terakhir sampai sekarang kualami).

Ayu Utami juga yang membuatku sempat suka pada seorang adik kelas, Katolik dengan latar belakang keluarga Katolik yang Jawa banget sehingga nyaris Muslim, pembaca buku, pengamat dan pengkritisi hal kecil-kecil (tak heran kacamata dia tebal) dan pengkoleksi lonceng sapi. Ya, koleksi lonceng sapi. Dalam kamarnya ada rak khusus buku-buku perbandingan agama dan primbon. Percaya Tuhan ahli berhitung sehingga bersuami pekerja negara yang kerjanya mengawasi orang menghitung, itupun perhitungan weton mereka sudah dihitung lengkap sampai tanggal baik untuk bikin anak, kali. Di kacamataku, dia perempuan yang mirip Ayu Utami, atau barangkali aku mengira Ayu Utami itu seperti dia.

Kalau aku harus menyebut satu nama pengarang favorit, sudah pasti jawabannya Ayu Utami. Jika aku ditanya kenapa? Aku akan menjawab karena dia menulis buku seperti seorang guru menjelaskan sesuatu ke muridnya. Bagaimana seorang guru menjelaskan ke muridnya? Guru akan mengambil contoh-contoh sederhana yang mirip cara kerja/sistem/fungsinya dengan hal yang dimaksud. Sebagai contoh, bagaimana anda menjelaskan fungsi lambung untuk mencerna makanan ke anak kecil? Anda cukup mengumpamakan dengan blender. Nah, Ayu Utami ini menjembatani pikiran dia yang bizzare dengan cara perumpamaan itu sehingga kita nyambung dengan apa yang ditulisnya. Bahasannya berat, tapi dia balut ringan, nakal, kritis dan menimbulkan rasa curiga (dan ingin tahu). Ya itu yang kusuka dari Ayu Utami, nggak njlimet, meski penuh negasi dan sering kontradiktif. Yang belakangan itu aku curiga memang harus dimiliki orang-orang postmo.

Jangan mengaku penggemar buku kalau tidak pernah membaca karya Ayu Utami. Aku tidak membaca Harry Potter (karena hidup di Mars selama 15 tahun) atau seri Twilight yang penuh adegan banjir darah dan kekerasan dengan vampir kulit kecoklatan macho dan serigala pucat yang keemasan diterpa sinar matahari. Tidak, aku tidak membaca mereka dan aku tak hafal nama pengarangnya. Tapi kalau kamu tanya siapa pengarang dwilogi Saman/Larung, aku yang akan menjawab pertama kali: namanya Ayu Utami.

Rabu, 08 Februari 2012

lorong tanpa lorong

aku tak ingin terperangkap detil kepergianmu
asa musnah
hati tercabik

lalu waktu menjadi gasing, bumerang
berkisar
kenangan cuma masa lalu

ingatan hanya jebakan mimpi
genangan sepi
luruh di pagi-pagi

kita, para pelari
sepanjang jalan, sebagian mencipta lorong
berlari dan berlari
kau tak perlu terperangkap detil kepergianku

Selasa, 03 Januari 2012

kecelakaan erna, 27 desember 2011

a friend in need, a friend indeed?

aku tidak tahu, yang jelas aku dan nick kebingungan juga saat erna kecelakaan, harus masuk icu tanpa keluarga atau pasangannya untuk memutuskan dia mau diapakan. jadinya, akulah yang bertugas memutuskan. terbukti keputusanku kurang tepat juga, tapi tanpa keluarga atau pasangan dia ada, ya, jelas aku kesulitan untuk memutuskan mau diapakan si erna ini. tentunya kaitan paling besar yaitu masalah dana. kalau aku memutuskan ini-itu lalu tiba-tiba bayar banyak sekali, bagaimana aku mempertanggungjawabkannya?

untungnya saat erna disarankan untuk dilakukan operasi kepala (sub dural hematom),, pihak keluarga sudah ada di sisinya. dengan posisi erna yang sudah coming out ke keluarganya, teman bebas datang silih berganti meski punya macam gaya (butch, femme, andro, gay, waria). pergaulan erna yang luas memungkinkan kami untuk menggalang dana, tapi entah berhasil atau tidak, aku tidak tahu.

dari pihakku, kami jualan buku bicara (bukan) pada sunyi yang seluruh uangnya akan diberikan ke erna. tapi tentu saja tidak banyak. terakhir yang kutahu biayanya sampai saat ini 30 juta. wih, duit banyak banget itu.

aku masih agak sebel sama pasangan erna, gak habis pikir gimana bisa dia meninggalkan kami begitu saja di ird rumah sakit angkatan laut itu cuma bertiga, aku , nick dan yang sakit, erna. lebih pusing lagi saat dia bilang ke alung kalo yang bisa njenguk cuma keluarganya erna, alung, tria dan dia. lha gimana kita mau nggalang dana kalo temen-temennya gak boleh jenguk?

semakin nggak respect saja aku sama dia.

tahun baru kami akhirnya gagal ke tempat erna. aku, ai, rere, icha, caca dan cici akhirnya ke rumah nick. setelah cari makan dan terjebak macet, kami tiba di rumah nick jam setengah 12 malem, gak peduli dengan perayaan tahun baru yang penting makan dan langsung balapan tidur karena kecapekan terjebak macet. perayaan tahun baru yang aneh bin menyebalkan.

ya sudahlah, anggap pengalaman berharga. lain kali bila naik sepeda motor, jangan lupa helm di klik.

Senin, 28 November 2011

pada akhirnya

in the end we only regret chances we didnt take, the relationships we were scared to have and the decisions we waited too long to make.
there comes a time in your life when you realize who matters who doesnt, who never did and who always will

pada akhirnya kita hanya akan menyesali kesempatan yang tidak kita ambil, ikatan-ikatan emosi yang kita terlalu takut untuk miliki dan keputusan-keputusan yang kita buat dalam waktu yang lama.
akan datang saat-saat dalam hidupmu di mana kau menyadari siapa yang benar-benar berarti dan siapa yang tidak, siapa yang tidak pernah berarti dan siapa yang selalu berarti.

Selasa, 15 November 2011

terima kasih

Aduh, cuti ini membuat aku sedikit "gila". Di rumah terus empat hari ini karena penyakit menular cacar air yang kuderita, rasanya gak tahan, pingin keluar dari rumah, tapi malu. Vesikel-vesikel di mukaku parah.

Ndengerin musik mpe muak, main gitar gak lancar-lancar, belajar keyboard udah menyerah. Membaca malas. duh, gimana donk?

Jadi aku banyak menulis di blog, mengedit cerita-cerita lamaku walaupun aku benci mengedit. Mengedit tulisanku yang dikembalikan Lakhsmi, salah satu editor SK yang (konon) menakutkan (untung gak diomel-omelin dan dibilang "tulisanmu buruk, tamat SMA atau enggak, sih?"), dan menelaah perjalanan tulisanku.

Aku berterima kasih (pada diriku sendiri) karena aku menulis. Kebiasaan sejak SD menjelang SMP sampai sekarang. Aku cuma ingin menulis apa yang ingin kutulis, bukan pesanan orang atau untuk menarik pembaca. Frankly, i dont even need a reader. Seharusnya, pembaca yang berterima kasih pada penulis, bukan sebaliknya. Pembaca ada karena ada penulis, bukan sebaliknya. Penulis memberi jejak-jejak sejarah, penulis memberi pengetahuan tentang apa yang tidak diketahui pembaca dan penulis adalah pengejar fragmen keabadian. Penulis memberi gambaran gamblang terhadap apa yang dirasakan pembaca. Penulis membaca pembaca, memuaskan pembaca, memberi stimuli dalam bentuk tulisan pada pembacanya. Tanpa penulis, kekayaan manusia hanyalah ingatan. Cuma kenangan. Hilang oleh emosi baru atau terbawa pergi orang-orang yang terbaring dan menutup mata.

Pembaca yang seharusnya berterima kasih pada penulis.

Sebagai penulis, tentunya aku berawal sebagai pembaca (meski aku cuma penulis blog). Bisa dibilang aku pembaca buku itu-itu saja, dan aku berterima kasih kepada penulis bukuku yang itu-itu saja dengan cara: menulis. Aku berterima kasih awalnya dengan cara merespon kata-kata atau perdebatan dalam buku-buku yang kubaca. Dengan cara menulis emosi yang digambarkan sang penulis ke dalam ceritaku, memberi plot, alur, karakter yang kuinginkan ada demi sang penulis. Aku pembaca yang tahu berterima kasih, karenanya aku menulis, mencatatkan sejarah demi sejarah, yang nyata atau buatan, semuanya demi keabadian, mengabadikan rasa terima kasihku. Ars longa vita brevis.

Aku berterima kasih pada penulis buku-buku, tulisan-tulisan, puisi, lirik lagu, reviews, cerita, laporan, liputan dan sebagainya yang menjadikanku menjadi penulis yang sekarang. Mungkin aku tidak inspiratif, tidak hangat menyapa pembaca, tidak menghargai pembaca, masa bodoh dengan keinginan pembaca, bersikap it's me attitude, congkak dan sebagainya. Semua itu karena aku merasa pembaca yang memberi respon adalah seorang penulis juga yang memberi tahu aku, yang seorang penulis, apa yang tidak kuketahui. Sehingga aku bisa membaca pembaca dan belajar menulis lagi dari apa yang tidak kuketahui. Begitu terus.

Sewaktu belajar di dbuku pada proyek resensi Kota Surabaya, direktur dbuku Mbak Sasa mengedit setengah mati hasil resensiku. Potong ini, potong itu, sambil minta maaf dan bilang jangan sakit hati. Dia menulis padaku untuk menambah ini-itu, mengatakan resensiku kurang panjang, menyuruhku cari pembahasan lain yang kira-kira kurang, dan sebagainya. Puyeng setengah mati, bukan hanya karena dia motong ini-itu sehingga bikin pendek tulisanku, tapi dia tak memberi clue yang banyak dan cuma menganjurkan baca buku ini dan itu.

Dari situlah aku semakin yakin, aku harus berterima kasih pada penulis. Karena dengan membaca buku ini-itu yang dibilang Mbak Sasa, aku melahap satu demi satu buku resensi. Hasilnya, aku berhasil meresensi buku-buku tak biasa macam buku kuliner, kamus suroboyan-indonesia, dsb.

Dan aku terpukul dengan kebiasaan penulis berterima kasih pada pembacanya. Sebagai penulis (yang juga pembaca), aku merasa pembacalah yang mesti berterima kasih. Aku mengejar buku Mira W dari satu toko buku bekas ke toko buku bekas lain demi mencari perbedaan antara Relung-Relung Gelap Hati Sisi edisi lama dan edisi baru seperti yang pernah ditulis Alex. Aku mengejar buku Herlinatiens Garis Tepi Seorang Lesbian dan tak berhasil mendapatkannya sampai sekarang, terus mencoba cari meski susah, karena aku berterima kasih. Mereka menulis buku bertema dunia lesbian yang langka, baik itu dari sudut pandang yang positif maupun negatif. Penulis mengabadikan dan mencurahkan waktu serta bakatnya agar pembaca bisa menikmati usahanya. Oleh karena itu aku berterima kasih pada penulis.

Saat banyak penulis bunuh diri setelah menuliskan karya-karya besarnya, seperti Virgina Woolf (Mrs. Dalloway) dan Stieg Larsson (trilogy of The Girl with Dragon Tattoo), itu membuatku semakin yakin, penulis tidak membutuhkan pembaca untuk mengapresiasi atau mendukung apa yang dia lakukan. Malahan, pembacalah yang kehilangan pasca kepergian mereka. Saat itu baru mereka berterima kasih. Rasa terima kasih yang tertulis (dan abadi) itu, meski terlambat, bagiku memang seharusnya dilakukan.

Terbayangkah anda, yang menggemari Harry Potter, bagaimana jika pada seri ke enam tiba-tiba J.K Rowling bunuh diri? Mungkin tidak satu orangpun di dunia ini sanggup membawa keajaiban Harry Potter seperti yang dilakukan perempuan Inggris itu. Jika dia berterima kasih pada anda karena telah membaca bukunya, berpikir ulanglah. Dia layak berterima kasih untuk usaha kita menabung uang saku demi membeli buku seri harry potter sebagai koleksi pribadi, dia layak berterima kasih karena kita mau mengantre ratusan meter demi mendapat tanda tangannya, membeli merchandise harry potter, dia layak berterima kasih untuk apapun di luar tentang tulisannya, sebab kita, para pembaca, lah yang layak berterima kasih untuk sesuatu luar biasa yang dia berikan lewat tulisannya.

Rasa terima kasihku jugalah yang membawaku berani mengirim naskah pada SK, terima kasih telah memberi bacaan yang menarik sejak tahun 2007, yang membuatku belajar, yang memberiku pengetahuan lewat penulis-penulis terpilih. Rasa terimakasihku dan dua juta pengunjung lain. Terima kasih.

Dan untuk para pembaca: mari menulis!

Kamis, 10 November 2011

LISTEN

You know, it really is amazing what we're capable of if we care about someone enough. True love, that's what it's called, and it doesn't really matter how you find it, just as long as you do. -Krista Barron.

Jika ditanya film lesbian pertamaku apa, jawabannya adalah LISTEN. Aku nonton pertama di kelas 6 SD diajak oleh kakak perempuanku di tahun 1996. Yang kuingat dari film itu adalah, jika kamu mencintai seseorang, kamu akan melakukan segalanya untuk mendapatkannya (tipikal lesbian psycho).

Jadi aku browsing ke mbah google, di sana kutemukan banyak link mereview LISTEN ini, menambal ingatanku yang lubang-lubang tentang ceritanya.

Sarah dan Krista dulunya adalah sepasang kekasih yang berpisah saat Sarah memutuskan hubungan mereka karena ingin punya anak. Sarah meninggalkan Krista untuk laki-laki bernama Jake.

Suatu hari, Sarah menemukan telepon di balik lemari pakaian (bener/nggak, ya? ini seingetku) yang ternyata bisa mendengarkan phonesex yang dilakukan oleh tetangga apartemennya (seorang pria). Sarah, yang ingin berkomitmen heterosexual dengan Jake tapi tidak yakin bisa settle in, mengalihkan kegelisahannya tersebut pada -yang kemudian menjadi kebiasaan- kegiatan menguping phonesex tetangganya (nguping sambil bermasturbasi).

Satu persatu perempuan operator phonesex yang didengarkan oleh Sarah terbunuh oleh serial killer, kemudian Sarah curiga kemungkinan Jake adalah sang penelepon yang dia kuping yang mungkin juga pembunuh para operator tersebut.

Seingatku, siapa pembunuhnya akan diungkapkan oleh satu bandul atau gantungan kunci dan kata-kata penutup film ini.

Sebenarnya aku sama sekali tidak ingat pemain-pemainnya, cantikkah, gantengkah, dsb. Yang aku ingat dari film ini adalah adegan-adegan erotisnya (dan pertanyaan yang berputar-putar di kepalaku adalah kenapa kakakku ngajak aku nonton film erotis saat aku masih kelas 6 SD, film lesbian lagi), ini adalah untuk beberapa kalinya aku nonton film 17 tahun ke atas (gara-gara film Indonesia jadul dulu boomingnya film nyrempet-nyrempet seks) di bioskop.

LISTEN membekas diingatan karena ini film vulgar pertama yang kutonton, temanya unik: lesbian (waktu itu belum tau kalo perempuan bisa suka perempuan) dan plotnya menarik (serial killer, phonesex, a psycho lover). Jadi, ya, ketiga hal tersebut yang paling kuingat dari film lesbian pertama yang kutonton ini.

Minggu, 06 November 2011

listen to my prayer

by a patient old pilgrim i sit
i take a look
at the bare feet

i listen carefully
every word sprouts into sentence
sighs of amen

for the love i endure
God, spare me
redeem me

i'm indulging my passion
remembering her face
into my sinful prayer

God,
for only i know
it's You set me free
it's You let me be
my power, my pleasure, my pain