merokok. barangkali sebagian besar orang menghujat rokok. bahkan ada yang ribut ingin memasukkannya dalam list narkoba golongan I karena efek adiksinya. tapi aku pribadi, im glad rokok hadir di kehidupan manusia.
saat aku sekolah untuk mendapat titel di depan namaku, aku sering menghadapi kematian orang lain. setiap kematian, aku selalu sibuk menyalahkan diri dan mood menjadi rusak. sering marah. sering kecewa. aku punya solusi saat itu, sebatang rokok untuk suatu kematian. aku menjadi lebih tenang. somehow, it puts me at ease. tapi aku juga tidak berakhir dengan menjadi kereta api beberapa tahun terakhir saat aku menghadapi kematian setiap hari, malah aku berhenti merokok. aku cuma merokok kalau rindu, kalau suasana hati tak tenteram, kalau sedang ingin sendiri, kalau gelisah. dan aku tak suka kopi.
rokok mencegah demensia dan parkinson, berlaku untuk laki-laki. perempuan? tak bermakna, konon katanya karena hormon.
barangkali semua tergantung kebijakan kita sendiri memakai sesuatu. seperti rokok, yang maunya dimasukkan, narkoba golongan I. terlepas betapa rokok menghidupi hajat hidup orang banyak (prostitusi dan narkoba juga menghidupi, lho!), reaksi kimia yang terjalin antara zat-zat dalam rokok dengan neuro transmitter/reseptornya memberi semacam suntikan energi tambahan (kata erna itu cuma sugesti! berani sekali dia membantah aku, hahaha, kuhajar dengan teori nikotin dan reseptornya di tubuh kita, sebagian yang dijelaskan seorang guru besar sebuah perguruan tinggi yang pernah kudengar materi kuliahnya). kayak minum kopi, orang yang biasa minum kopi maka sehari tak minum akan lemas (sialnya sebagian besar teman kerjaku adalah peminum kopi, mereka yang berhenti cuma untuk alasan hamil), tak bersemangat, dan sebagainya. efek palpitasi akan memicu kita untuk bergerak dan bergerak, mirip ecstacy/ekstasi. godek terus, yuk, oom erna. hehehe, teori asal-asalan. aku? minum kopi segelas dan berakhir kalau tidak semaput karena palpitasi atau kebanyakan gerak, ya karena migrain (padahal dalam obat migrainku ada caffein nya, aneh bukan?).
ya sudahlah, tampaknya semakin malam semakin ngelantur. erna sibuk nggebet mantan dan aku mantengin komputer dengan mouse yang sudah lecek punya kantornya. rupanya kantor erna ini punya satpam baru: dia. hahaha. ngekos kok di kantor.
compromise where you can, when you can't...elang terbang sendiri, phoebe!
Rabu, 11 April 2012
Selasa, 03 April 2012
Namanya Ayu Utami
Jadi aku di sini, setengah jam sebelum hari ulang tahunku berakhir, setelah curhat berdarah-darah pada Alex kenapa aku tidak bisa menulis lagi dan sehabis teman-temanku plus partner mengadakan konferensi meja kotak di sebuah kafe di bilangan Hayam Wuruk membahas atau berdebat seru tentang impian. Aku tentu tidak ikut ambil bagian dalam perdebatan itu karena, alasan sederhana, I don't do dream.
Demi memuluskan langkah partner mengikuti SepociKopi 30 Day Challenge, aku duduk berjam-jam, berganti-ganti posisi kaki dan tubuh, Bilangan Fu di tanganku. Buku setebal 500 atau 600 halaman itu kubalik lembar demi lembar, bisa saja kuselesaikan seharian tapi aku bukan pengangguran, dengan jadwal rutinku yang padat bin membosankan, jumlah halaman itu dalam 7 hari membuatku ingin mencekik biang kerok pencetus tantangan ini.
Dan dengan kurang ajar, si biang kerok itu juga tadi menyuruhku berhenti menulis. "Saranku? Berhenti nulis," itu kata-katanya kalau aku perlu mereka ulang lewat chatting.
Jengkel dengan chatting, yang teks maupun yang denger (teman-teman yang konferensi tadi masih berapi-api membahas mimpi, mereka duduk dan memesan ini-itu padahal aku tidak sedang mentraktir mereka), aku tenggelam pada huruf demi huruf yang dilontarkan Ayu Utami dalam buku bersampul cokelat itu.
Dari pengarang yang menyebut diri sendiri Katolik nggak beres inilah, aku pertama kali bersinggungan dengan dua orang penggemar buku di SMA ku. Yang satu guru Bahasa Indonesia, yang satu cowok IPA3 yang sama-sama kelas 3. Lewat novel berjudul awal Laila tak Mampir ke New York, guruku meracuniku yang memang tidak suka sains tapi terjebak di kelas IPA, dan membuatku menjalani masa kritis agama dan masa negativisme (yang terakhir sampai sekarang kualami).
Ayu Utami juga yang membuatku sempat suka pada seorang adik kelas, Katolik dengan latar belakang keluarga Katolik yang Jawa banget sehingga nyaris Muslim, pembaca buku, pengamat dan pengkritisi hal kecil-kecil (tak heran kacamata dia tebal) dan pengkoleksi lonceng sapi. Ya, koleksi lonceng sapi. Dalam kamarnya ada rak khusus buku-buku perbandingan agama dan primbon. Percaya Tuhan ahli berhitung sehingga bersuami pekerja negara yang kerjanya mengawasi orang menghitung, itupun perhitungan weton mereka sudah dihitung lengkap sampai tanggal baik untuk bikin anak, kali. Di kacamataku, dia perempuan yang mirip Ayu Utami, atau barangkali aku mengira Ayu Utami itu seperti dia.
Kalau aku harus menyebut satu nama pengarang favorit, sudah pasti jawabannya Ayu Utami. Jika aku ditanya kenapa? Aku akan menjawab karena dia menulis buku seperti seorang guru menjelaskan sesuatu ke muridnya. Bagaimana seorang guru menjelaskan ke muridnya? Guru akan mengambil contoh-contoh sederhana yang mirip cara kerja/sistem/fungsinya dengan hal yang dimaksud. Sebagai contoh, bagaimana anda menjelaskan fungsi lambung untuk mencerna makanan ke anak kecil? Anda cukup mengumpamakan dengan blender. Nah, Ayu Utami ini menjembatani pikiran dia yang bizzare dengan cara perumpamaan itu sehingga kita nyambung dengan apa yang ditulisnya. Bahasannya berat, tapi dia balut ringan, nakal, kritis dan menimbulkan rasa curiga (dan ingin tahu). Ya itu yang kusuka dari Ayu Utami, nggak njlimet, meski penuh negasi dan sering kontradiktif. Yang belakangan itu aku curiga memang harus dimiliki orang-orang postmo.
Jangan mengaku penggemar buku kalau tidak pernah membaca karya Ayu Utami. Aku tidak membaca Harry Potter (karena hidup di Mars selama 15 tahun) atau seri Twilight yang penuh adegan banjir darah dan kekerasan dengan vampir kulit kecoklatan macho dan serigala pucat yang keemasan diterpa sinar matahari. Tidak, aku tidak membaca mereka dan aku tak hafal nama pengarangnya. Tapi kalau kamu tanya siapa pengarang dwilogi Saman/Larung, aku yang akan menjawab pertama kali: namanya Ayu Utami.
Demi memuluskan langkah partner mengikuti SepociKopi 30 Day Challenge, aku duduk berjam-jam, berganti-ganti posisi kaki dan tubuh, Bilangan Fu di tanganku. Buku setebal 500 atau 600 halaman itu kubalik lembar demi lembar, bisa saja kuselesaikan seharian tapi aku bukan pengangguran, dengan jadwal rutinku yang padat bin membosankan, jumlah halaman itu dalam 7 hari membuatku ingin mencekik biang kerok pencetus tantangan ini.
Dan dengan kurang ajar, si biang kerok itu juga tadi menyuruhku berhenti menulis. "Saranku? Berhenti nulis," itu kata-katanya kalau aku perlu mereka ulang lewat chatting.
Jengkel dengan chatting, yang teks maupun yang denger (teman-teman yang konferensi tadi masih berapi-api membahas mimpi, mereka duduk dan memesan ini-itu padahal aku tidak sedang mentraktir mereka), aku tenggelam pada huruf demi huruf yang dilontarkan Ayu Utami dalam buku bersampul cokelat itu.
Dari pengarang yang menyebut diri sendiri Katolik nggak beres inilah, aku pertama kali bersinggungan dengan dua orang penggemar buku di SMA ku. Yang satu guru Bahasa Indonesia, yang satu cowok IPA3 yang sama-sama kelas 3. Lewat novel berjudul awal Laila tak Mampir ke New York, guruku meracuniku yang memang tidak suka sains tapi terjebak di kelas IPA, dan membuatku menjalani masa kritis agama dan masa negativisme (yang terakhir sampai sekarang kualami).
Ayu Utami juga yang membuatku sempat suka pada seorang adik kelas, Katolik dengan latar belakang keluarga Katolik yang Jawa banget sehingga nyaris Muslim, pembaca buku, pengamat dan pengkritisi hal kecil-kecil (tak heran kacamata dia tebal) dan pengkoleksi lonceng sapi. Ya, koleksi lonceng sapi. Dalam kamarnya ada rak khusus buku-buku perbandingan agama dan primbon. Percaya Tuhan ahli berhitung sehingga bersuami pekerja negara yang kerjanya mengawasi orang menghitung, itupun perhitungan weton mereka sudah dihitung lengkap sampai tanggal baik untuk bikin anak, kali. Di kacamataku, dia perempuan yang mirip Ayu Utami, atau barangkali aku mengira Ayu Utami itu seperti dia.
Kalau aku harus menyebut satu nama pengarang favorit, sudah pasti jawabannya Ayu Utami. Jika aku ditanya kenapa? Aku akan menjawab karena dia menulis buku seperti seorang guru menjelaskan sesuatu ke muridnya. Bagaimana seorang guru menjelaskan ke muridnya? Guru akan mengambil contoh-contoh sederhana yang mirip cara kerja/sistem/fungsinya dengan hal yang dimaksud. Sebagai contoh, bagaimana anda menjelaskan fungsi lambung untuk mencerna makanan ke anak kecil? Anda cukup mengumpamakan dengan blender. Nah, Ayu Utami ini menjembatani pikiran dia yang bizzare dengan cara perumpamaan itu sehingga kita nyambung dengan apa yang ditulisnya. Bahasannya berat, tapi dia balut ringan, nakal, kritis dan menimbulkan rasa curiga (dan ingin tahu). Ya itu yang kusuka dari Ayu Utami, nggak njlimet, meski penuh negasi dan sering kontradiktif. Yang belakangan itu aku curiga memang harus dimiliki orang-orang postmo.
Jangan mengaku penggemar buku kalau tidak pernah membaca karya Ayu Utami. Aku tidak membaca Harry Potter (karena hidup di Mars selama 15 tahun) atau seri Twilight yang penuh adegan banjir darah dan kekerasan dengan vampir kulit kecoklatan macho dan serigala pucat yang keemasan diterpa sinar matahari. Tidak, aku tidak membaca mereka dan aku tak hafal nama pengarangnya. Tapi kalau kamu tanya siapa pengarang dwilogi Saman/Larung, aku yang akan menjawab pertama kali: namanya Ayu Utami.
Rabu, 08 Februari 2012
lorong tanpa lorong
aku tak ingin terperangkap detil kepergianmu
asa musnah
hati tercabik
lalu waktu menjadi gasing, bumerang
berkisar
kenangan cuma masa lalu
ingatan hanya jebakan mimpi
genangan sepi
luruh di pagi-pagi
kita, para pelari
sepanjang jalan, sebagian mencipta lorong
berlari dan berlari
kau tak perlu terperangkap detil kepergianku
asa musnah
hati tercabik
lalu waktu menjadi gasing, bumerang
berkisar
kenangan cuma masa lalu
ingatan hanya jebakan mimpi
genangan sepi
luruh di pagi-pagi
kita, para pelari
sepanjang jalan, sebagian mencipta lorong
berlari dan berlari
kau tak perlu terperangkap detil kepergianku
Label:
get ready,
lost season's calling,
my weird mind
Minggu, 22 Januari 2012
jarak
berapa kuat jarak, kin? seberapa kuatnya ia mampu membuatku lupa padamu? jarak barangkali mengasingkan sejenak diriku pada sekeliling, adaptasi yang akan memforsir pikiranku dari memikirkanmu. lalu rutinitas mengaburkan bayangmu di jam kerja, lantas membuatku mengingatmu di waktu istirahatku.
aduh, kin, aku harus bagaimana?
nb: sambil ndengerin aya en niken di mykopio grensiti, kok mendadak inspirasiku hilang ya?
aduh, kin, aku harus bagaimana?
nb: sambil ndengerin aya en niken di mykopio grensiti, kok mendadak inspirasiku hilang ya?
Kamis, 19 Januari 2012
set adrift on memory bliss
Aku seperti lupa, berapa lama kita tak jumpa, seperti sudah selamanya. Selamanya sudah berlalu, tinggal aku menatapmu di kejauhan, stelan jas formal membungkus rapi tubuh rampingmu. Aku sampai lupa kalau kamu lebih tinggi dari aku, tujuh senti kurang lebih. Banyak yang sudah kulupakan tentang kamu, aku lebih tertarik untuk mengenal kamu yang sekarang ini ada di hadapanku. Kamu yang sekarang.
Barangkali agak menyenangkan juga, kita berdua sama-sama terjebak di pulau Dewata untuk menghadiri simposium kerja profesional kita. Tapi, aku cuma asisten di sini dan kamu, apa ya kamu, petugas keamanan mungkin? Kamu pasti akan mengulang kata 'petugas keamanan' dengan kata-kata yang santai dan penuh canda. Aku selalu suka cara bercandamu yang itu. Cara bercandamu yang membuatku tersipu.
Dan malam tiba, aku tahu kamu pasti tidak tahan untuk tidak mendekatiku. Kamu memang cukup agresif, dan ingatanmu yang kuat tentu belum melupakan kisah cinta seumur jagung kita waktu sekolah dulu. Lihat dirimu, senyum lebar penuh percaya diri, androgini yang anggun, berambut panjang, sedikit mengembang bekas di sasak sana-sini, kulit kering karena rajin mandi air hangat, rambut agak rusak karena banyak dimodif untuk pesta, tapi senyummu tetap tak berubah. Dan yang paling kusuka adalah senyummu.
Bertemu denganku hanyalah alasan kedua kamu di sini, seperti juga alasanku karena aku tidak tahu kalau akan bertemu kamu di sini. Semuanya terasa asing, kamu seperti makhluk baru bagiku, bukan karena kamu jauh berubah. Aku seperti lupa kamu pernah ada di hidupku. Rasanya sudah lama sekali padahal aku baru mau menginjak 28 tahun. Tidak selama itu, bukan? Aku tidak keberatan, aku masih menyukaimu di pandangan pertama, apalagi kamu memberi bonus senyum manis yang tak terjadi di pertemuan kita pertama dulu. Begitu menyenangkan sampai aku lupa cincin yang mengikat jari manismu. Apa itu dosa yang paling manis? Dosa yang tercatat dengan jari manismukah? Aku mabuk kepayang, aku lupa daratan. Aku lupa ada cinta yang seperti ini dan dalam seminggu semua akan berakhir seperti kisah cinta yang sedih di film drama, aku menangis sendiri sementara kamu memeluk orang lain dan aku hanyalah teman kencan seminggumu di pulau Dewata. Aku tak keberatan, bukankah orang mabuk selalu nyeri kepala setelahnya? Dan itu tidak menghentikan mereka untuk mabuk lagi.
Kita berjalan berhimpitan, kurangkulkan lenganku pada pinggangmu, mencubit gemas sedikit lemak yang bersembunyi di sana. Seminyak, Kuta, Padang-Padang, Benoa, duh terus mana lagi ya? Aku tak peduli latar belakangnya mana, yang penting aku bersamamu. Pelan-pelan melangkahi hari demi hari hingga saat mimpi sedih tiba. Hari terakhir dan senyummu masih sama, tidakkah ada sebersit kesedihan tersirat di hatimu? Mungkin aku tak perlu mengharap demikian, selepas ini kamu punya kekasih lain untuk memelukmu. Sedang aku terbangun dari mimpi sedih mengenang kebersamaan kita. Demikian cinta menjadi begitu memabukkan, memisahkan hati dari logika, selalu begitu kalau tentang kamu.
Dan aku terbangun dari mimpi sedih itu ini malam.
~inspirasi: patah hatinya boneng
Barangkali agak menyenangkan juga, kita berdua sama-sama terjebak di pulau Dewata untuk menghadiri simposium kerja profesional kita. Tapi, aku cuma asisten di sini dan kamu, apa ya kamu, petugas keamanan mungkin? Kamu pasti akan mengulang kata 'petugas keamanan' dengan kata-kata yang santai dan penuh canda. Aku selalu suka cara bercandamu yang itu. Cara bercandamu yang membuatku tersipu.
Dan malam tiba, aku tahu kamu pasti tidak tahan untuk tidak mendekatiku. Kamu memang cukup agresif, dan ingatanmu yang kuat tentu belum melupakan kisah cinta seumur jagung kita waktu sekolah dulu. Lihat dirimu, senyum lebar penuh percaya diri, androgini yang anggun, berambut panjang, sedikit mengembang bekas di sasak sana-sini, kulit kering karena rajin mandi air hangat, rambut agak rusak karena banyak dimodif untuk pesta, tapi senyummu tetap tak berubah. Dan yang paling kusuka adalah senyummu.
Bertemu denganku hanyalah alasan kedua kamu di sini, seperti juga alasanku karena aku tidak tahu kalau akan bertemu kamu di sini. Semuanya terasa asing, kamu seperti makhluk baru bagiku, bukan karena kamu jauh berubah. Aku seperti lupa kamu pernah ada di hidupku. Rasanya sudah lama sekali padahal aku baru mau menginjak 28 tahun. Tidak selama itu, bukan? Aku tidak keberatan, aku masih menyukaimu di pandangan pertama, apalagi kamu memberi bonus senyum manis yang tak terjadi di pertemuan kita pertama dulu. Begitu menyenangkan sampai aku lupa cincin yang mengikat jari manismu. Apa itu dosa yang paling manis? Dosa yang tercatat dengan jari manismukah? Aku mabuk kepayang, aku lupa daratan. Aku lupa ada cinta yang seperti ini dan dalam seminggu semua akan berakhir seperti kisah cinta yang sedih di film drama, aku menangis sendiri sementara kamu memeluk orang lain dan aku hanyalah teman kencan seminggumu di pulau Dewata. Aku tak keberatan, bukankah orang mabuk selalu nyeri kepala setelahnya? Dan itu tidak menghentikan mereka untuk mabuk lagi.
Kita berjalan berhimpitan, kurangkulkan lenganku pada pinggangmu, mencubit gemas sedikit lemak yang bersembunyi di sana. Seminyak, Kuta, Padang-Padang, Benoa, duh terus mana lagi ya? Aku tak peduli latar belakangnya mana, yang penting aku bersamamu. Pelan-pelan melangkahi hari demi hari hingga saat mimpi sedih tiba. Hari terakhir dan senyummu masih sama, tidakkah ada sebersit kesedihan tersirat di hatimu? Mungkin aku tak perlu mengharap demikian, selepas ini kamu punya kekasih lain untuk memelukmu. Sedang aku terbangun dari mimpi sedih mengenang kebersamaan kita. Demikian cinta menjadi begitu memabukkan, memisahkan hati dari logika, selalu begitu kalau tentang kamu.
Dan aku terbangun dari mimpi sedih itu ini malam.
~inspirasi: patah hatinya boneng
a very sad movie-like dream
after a conversation via ym with a broken-hearted boneng, last night i dreamt about tough moments.
it was tough, woke up crying.
it's hard being denied after being loved but, its better find out now than never. life's still going on, dont narrow minded and never say regret.
it was tough, woke up crying.
it's hard being denied after being loved but, its better find out now than never. life's still going on, dont narrow minded and never say regret.
Selasa, 03 Januari 2012
kecelakaan erna, 27 desember 2011
a friend in need, a friend indeed?
aku tidak tahu, yang jelas aku dan nick kebingungan juga saat erna kecelakaan, harus masuk icu tanpa keluarga atau pasangannya untuk memutuskan dia mau diapakan. jadinya, akulah yang bertugas memutuskan. terbukti keputusanku kurang tepat juga, tapi tanpa keluarga atau pasangan dia ada, ya, jelas aku kesulitan untuk memutuskan mau diapakan si erna ini. tentunya kaitan paling besar yaitu masalah dana. kalau aku memutuskan ini-itu lalu tiba-tiba bayar banyak sekali, bagaimana aku mempertanggungjawabkannya?
untungnya saat erna disarankan untuk dilakukan operasi kepala (sub dural hematom),, pihak keluarga sudah ada di sisinya. dengan posisi erna yang sudah coming out ke keluarganya, teman bebas datang silih berganti meski punya macam gaya (butch, femme, andro, gay, waria). pergaulan erna yang luas memungkinkan kami untuk menggalang dana, tapi entah berhasil atau tidak, aku tidak tahu.
dari pihakku, kami jualan buku bicara (bukan) pada sunyi yang seluruh uangnya akan diberikan ke erna. tapi tentu saja tidak banyak. terakhir yang kutahu biayanya sampai saat ini 30 juta. wih, duit banyak banget itu.
aku masih agak sebel sama pasangan erna, gak habis pikir gimana bisa dia meninggalkan kami begitu saja di ird rumah sakit angkatan laut itu cuma bertiga, aku , nick dan yang sakit, erna. lebih pusing lagi saat dia bilang ke alung kalo yang bisa njenguk cuma keluarganya erna, alung, tria dan dia. lha gimana kita mau nggalang dana kalo temen-temennya gak boleh jenguk?
semakin nggak respect saja aku sama dia.
tahun baru kami akhirnya gagal ke tempat erna. aku, ai, rere, icha, caca dan cici akhirnya ke rumah nick. setelah cari makan dan terjebak macet, kami tiba di rumah nick jam setengah 12 malem, gak peduli dengan perayaan tahun baru yang penting makan dan langsung balapan tidur karena kecapekan terjebak macet. perayaan tahun baru yang aneh bin menyebalkan.
ya sudahlah, anggap pengalaman berharga. lain kali bila naik sepeda motor, jangan lupa helm di klik.
aku tidak tahu, yang jelas aku dan nick kebingungan juga saat erna kecelakaan, harus masuk icu tanpa keluarga atau pasangannya untuk memutuskan dia mau diapakan. jadinya, akulah yang bertugas memutuskan. terbukti keputusanku kurang tepat juga, tapi tanpa keluarga atau pasangan dia ada, ya, jelas aku kesulitan untuk memutuskan mau diapakan si erna ini. tentunya kaitan paling besar yaitu masalah dana. kalau aku memutuskan ini-itu lalu tiba-tiba bayar banyak sekali, bagaimana aku mempertanggungjawabkannya?
untungnya saat erna disarankan untuk dilakukan operasi kepala (sub dural hematom),, pihak keluarga sudah ada di sisinya. dengan posisi erna yang sudah coming out ke keluarganya, teman bebas datang silih berganti meski punya macam gaya (butch, femme, andro, gay, waria). pergaulan erna yang luas memungkinkan kami untuk menggalang dana, tapi entah berhasil atau tidak, aku tidak tahu.
dari pihakku, kami jualan buku bicara (bukan) pada sunyi yang seluruh uangnya akan diberikan ke erna. tapi tentu saja tidak banyak. terakhir yang kutahu biayanya sampai saat ini 30 juta. wih, duit banyak banget itu.
aku masih agak sebel sama pasangan erna, gak habis pikir gimana bisa dia meninggalkan kami begitu saja di ird rumah sakit angkatan laut itu cuma bertiga, aku , nick dan yang sakit, erna. lebih pusing lagi saat dia bilang ke alung kalo yang bisa njenguk cuma keluarganya erna, alung, tria dan dia. lha gimana kita mau nggalang dana kalo temen-temennya gak boleh jenguk?
semakin nggak respect saja aku sama dia.
tahun baru kami akhirnya gagal ke tempat erna. aku, ai, rere, icha, caca dan cici akhirnya ke rumah nick. setelah cari makan dan terjebak macet, kami tiba di rumah nick jam setengah 12 malem, gak peduli dengan perayaan tahun baru yang penting makan dan langsung balapan tidur karena kecapekan terjebak macet. perayaan tahun baru yang aneh bin menyebalkan.
ya sudahlah, anggap pengalaman berharga. lain kali bila naik sepeda motor, jangan lupa helm di klik.
Langganan:
Postingan (Atom)