Rabu, 27 Februari 2013

resolusi awal tahun yang telat banget

jadi aku sepakat, hal terbodoh yang pernah kulakukan di tahun 2012 adalah pergi ke bromo dengan persiapan minim. padahal dari berempat, aku-nick-erna-hening, cuma erna yang mengaku pernah ke bromo. mengandalkan peta coretan tangan dari teman kuliahku, kami berangkat dengan dua sepeda motor.

alhasil, erna hipotermi di sana, untung sekali ya Tuhan ada perpanjangan tanganMu, dua orang laki-laki menyelamatkan kami. dan jaket berlebih yang kubawa.

kita memang tidak boleh meremehkan alam.

maka, resolusi tahun ini, bulat tekadku bahwa bila akan berlibur harus memastikan situasi dan kondisi yang akan kami temui. entah cuaca, kendaraan pulang-pergi, makan, uang saku, obat-obatan dan lain-lain. sedikit mengurangi kebiasaan sebagai bocah petualang, karena mau tidak mau harus sadar kondisi diri.

dan barangkali libur akhir tahun adalah yang terbaik, bali dan berempat. nick-erna-aku-hening. a little bit crazy but so much fun. bad decisions make good stories. dan keputusan yang tak kusesali. terima kasih kepada hening swara yang sudah memberi kami hadiah liburan ini.

Jumat, 11 Januari 2013

Sepocikopi jaya!

Rutinitas adalah pengabur jejak waktu yang paling mujarab. Sering kali, dengan rutinitas yang bertubi-tubi, 24 jam tak cukup buatku.
Seperti hari ini, saat aku mendapatkan email dari Sepocikopi, terus terang aku kaget. Aku tak pernah merasa diriku adalah kontributor tetap, hanya menulis sesempatnya, semoodnya, dan se-se yang lain yaitu melihat kondisi dan situasi yang ada. Dalam hati membatin, aku punya tugas bejibun yang belum kuselesaikan, Sepocikopi meminta satu tulisan untuk tanggal tertentu dengan tema ulang tahunnya. Kalau sehari lebih dari 24 jam, bolehlah, masih membatin dalam hati.
Lalu aku berpikir ulang kembali, berapa banyak orang yang beruntung seperti aku? Menjadi bagian dari sederet penulis yang ditunjuk untuk memberi warna jendela elektronik di majalah online yang menyatukan dan menjadi panutan  demikian banyak lesbian di nusantara (bahkan mungkin di luar juga). Aku punya satu kolom yang bisa kumanfaatkan mencurahkan rasa terima kasih dan doa panjang umur untuk majalah yang sudah menemaniku selama enam tahun ini, bukan cuma sederet doa pendek di ruang komentar. Jadi, mengapa tidak. Belum sampai satu jam kubaca email tersebut, aku langsung menulis.
Kembali ke rutinitas, beberapa saat yang lalu  di hari raya Idul Fitri, aku merenungkan satu hal yang belum sempat kutulis di manapun. Renungan yang sempat terlupa karena rutinitas, dan kebetulan  cocok untuk tema ulang tahun Sepocikopi.
Di sela liburan hari raya itu aku mengunjungi rumah kakak ipar yang berada di desa daerah Babat yang menuju ke arah Jombang. Di Kecamatan Mada. Konon, menurut orang-orang di sana dulu pernah lahir seorang bocah laki-laki bernama Gajah. Gajah itu demikian terkenal, terutama di jaman Majapahit hingga sekarang dengan sebutan Gajah Mada. Gajah yang berasal dari desa Mada.
Entah itu sejarah benar atau tidak, aku tidak terlalu ambil pusing. Ada hal yang membuatku sudah pusing dengan berada di sana. Jangan bayangkan desa itu selalu hijau, berhawa sejuk, air jernih melimpah. Hijau iya sih, tapi hawa sejuk dan air jernih? Ngimpi!
Jalan gang yang penuh kapur dan selalu dilewati sepeda motor atau mobil membuat sesak jalan nafas. Air  yang harus ditampung terlebih dahulu beberapa lama agar tidak keruh, yang membuatku malas untuk sikat gigi. Ini bukan bayangan desa makmur.
Barangkali beberapa ratus tahun yang lalu, saat Gajah menjadi pemuka pemerintahan Majapahit, desa ini maju dan menawan. Masa keemasan yang ditelan oleh waktu. Waktu memakan apapun, kedigjayaan dilahapnya habis.
Ada perjuangan yang mungkin sama seperti perjuangan Gajah dan sumpah Palapanya. Barangkali kubayangkan Alex, Lakhsmi, Ade Rain, Bening dan penancap tonggak Sepocikopi lainnya bersumpah takkan menikmati kenikmatan dunia sampai berhasil membuat bacaan berkelas untuk lesbian nusantara. Namun, perjuangan yang lebih sulit adalah mempertahankan masa emas yang ada. Menyadari hal yang abadi adalah perubahan, satu demi satu perubahan, perombakan, mengikuti animo demand pembaca sambil tetap menjaga mutu tulisan adalah hal unik yang membuat Sepocikopi tetap dibanggakan.
Enam tahun yang lalu, aku hanya penikmat tulisan Sepocikopi, punya banyak waktu lengang tanpa keinginan untuk menjadi salah satu penulis. Memberikan informasi ke sesama lesbian tentang majalah lesbian ini sambil lalu. Enam tahun kemudian, aku menulis ini, merasakan kesabaran Sepocikopi menunggu dan mendidik pembacanya untuk memberi kontribusi mulai hal yang sederhana, tulisan tentang kehidupan sehari-hari, sampai hal yang bersinggungan dengan orang lain seperti bakti sosial SKSurabaya beberapa waktu yang lalu.
Akan tumbuh orang-orang seperti aku, memberi kontribusi di kemudian hari. Terus dan terus, menjaga masa emas ini berlangsung lama. Semoga Sepocikopi diberi kekuatan untuk selalu membuka jalan, memberi inspirasi, pengetahuan, menjadi teman dan jendela untuk masa depan tanpa batas.
Jayalah selalu, Sepocikopi!

Selasa, 20 November 2012

(too) long weekend

meski liburanku tidak panjang di wiken kemarin (libur mulai kamis sampai minggu), di mana aku dapat jatah shift 2x karena rencana cutiku ke Semarang, aku  masih bisa memanfaatkan beberapa hari kosong untuk berkumpul dengan teman-teman lama. kali ini dengan Baweller's, grup waktu kuliah semester-semester akhirku. yang bisa hadir N, Q, I dan G. semuanya datang single, dengan anak dan tanpa suami, kecuali aku dan I karena sama-sama belum nikah.

aku tidak merasa heran ketika mereka datang tanpa suami. G suaminya seorang dokter spesialis di papua, Q punya suami angkatan laut yang sedang berlayar, sedangkan N aku tidak menanyakan alasannya. awalnya kupikir F, suami N, sibuk. setahuku F adalah direktur rumah sakit (RS) milik keluarga N. belakangan kutahu bahwa N-lah direktur sekarang, sedang F tak tahu ke mana rimbanya. menurut Q, F membuka sebuah klinik di daerah surabaya barat.

sampai aku tak sengaja mencetuskan pertanyaan yang dijawab oleh tatapan mata N seakan bertanya balik, "lho, mbak, kamu belum tahu ceritanya, ta?" oke, aku mengendus sesuatu yang salah di sini, dan aku tidak tahu itu apa. aku manusia yang jarang bergosip, meskipun tak sejarang dulu. tapi, tetap saja aku tidak tahu apa yang terjadi antara si N dan F.

ternyata, oh, ternyata, F menghamili salah satu bidan RS si N. bukan main kesalnya aku sama si F, dari belum nikah sampai sekarang punya anak satu kelakuan selingkuhnya masih gak berubah. pembicaraan berlanjut tentang cerita bagaimana N tahu F selingkuh, digerebek oleh keluarga N di sebuah hotel bersama seorang perempuan. bukannya minta maaf, F malah bilang ingin menikahi perempuan itu.

gosip berlanjut di bbm, aku dengan andhin yang merupakan teman satu angkatan si F. andhin mengamini kebejatan si F.

ingatanku kembali pada beberapa tahun lalu saat aku dan N shift bersama, saat N dan F pacaran, lalu F selingkuh dengan salah satu barista kafe milik anak seorang profesor mata di surabaya. aku menulis sebuah status di facebook tentang N yang di like oleh banyak temannya. tapi N memang orang yang jauh dari bergosip, sasaran empuk orang macam F. rupanya F menyalahgunakan kepercayaan N hingga ke akarakarnya. pernikahan mereka berakhir dan F ditendang keluar dari 'kerajaan' N.

hari lain di liburanku, kuhabiskan dengan migren setiap hari. sudah dua bulan ini migren menyiksaku, dan kemungkinan besar menjadi kronik. tapi, rasanya kok tidak etis ya menulis tentang penyakitku di sini. jadi, kuakhiri sampai sini aja.

wiken ini aku akan ke Semarang, kembali menikmati kereta Rajawali setelah sekian tahun. apa kabar Semarang, ya? gak sabar kembali memetakan pemandangannya.

Semarang, i'm coming!

Rabu, 24 Oktober 2012

"kapan nikah?"

Beberapa hari ini, pertanyaan tentang "kapan nikah?" sedang jadi topik hangat di sekelilingku. Tentunya pertanyaan itu ditujukan padaku. Bahkan kakak kelas yang sama belum menikah juga menanyakannya, kadang kuputar dengan balik tersenyum dan menggoda. Atau hanya kuangkat alis kiri sambil ketawa ala mak lampir, tak berusaha keras mengalihkan topik.

Hampir seluruh teman yang menanyaiku itu berdecak penasaran, laki-laki mana yang akan mendampingiku kelak. Barangkali mereka paham, setiap aku naksir seorang laki-laki maka 90% kecenganku itu sudah beristri. Sengaja. Atau tidak sengaja. Sering dituduh asal tunjuk yang oom-oom, yang sedikit tambun dan atau yang di lengannya duduk seorang balita, saat aku ditanya tentang tipe laki-laki yang kusukai. Aku tak suka berkelit dengan berbohong, aku benar-benar suka laki-laki perut buncit untuk dipeluk.

Sering kali aku bersahabat dengan perempuan yang punya percik-percik lesbian di tatapannya. Menggodaku, "pasti kamu suka aku, makanya kamu betah gak nikah," atau, "kamu naksir aku, kan?" yang kubalas dengan sama genitnya. Dan tersenyum.

Perempuan punya berbagai macam senyum, sering memilih tersenyum pahit saat marah atau kecewa. Kita bisa berlindung dari godaan pertanyaan, "kapan nikah?" dengan senyum. Tak perlu mematahkan topik dengan berlagak, "awas ada UFO," atau lari tunggang langgang. Tak perlu membalas dengan pilihan kata mulai yang pedas cabe 1 biji sampai 7 biji. Barangkali tak perlu berkelit atau berbohong, kenali lawan bicara dan bila tak bisa maka tersenyum saja. Mulai sekarang berlatihlah tersenyum berbagai ekspresi, senyum murung, senyum lega, senyum menantang, senyum pas-pasan dan sebagainya.

Sebagai contoh, bila oom yang keren menanyakan, "kapan nikah?" segera beri senyum lega sambil ditambah bumbu, "saya kira oom nggak tau saya single. Sekarang tahu, 'kan?" dan kedip-kedipkan kelopak mata. Atau kakak kelas yang menyebalkan bertanya, "kapan nikah?" beri senyum murung seakan baru ditinggal mati seseorang penting, bila perlu titikkan airmata agar dia keki. Paling tidak untuk jangka waktu setahun dia tidak akan mengganggumu.

Sedikit repot kalau menikah adalah tuntutan orang tua. Beberapa orang beruntung punya orang tua yang berpikiran terbuka, sebagian lain beruntung dengan orang tua yang prihatin anaknya tak laku-laku. Mulai pasang iklan, "dicari: suami," ke tetangga, teman arisan sampai saudara-saudara jauh bahkan minta ke teman perempuan yang sering dibawa anaknya ke rumah (yang ternyata pacar anaknya) untuk mencarikan calon. Belum lagi bila permintaan cepat nikah itu dilakukan orang tua sambil menangis, menyertakan penyakit ini-itu atau usia. Lantas, kita mau berkelit apa?

Senyum dulu, kuberi tahu sebuah rahasia. Kebanyakan teman-teman lesbianku yang menikah dengan terpaksa, untuk status palsu, berakhir melukai laki-laki. Jangan pernah berpikir menjadi korban cinta setelah terpaksa menikahi laki-laki yang tidak dicintai. Barangkali justru keputusan egois agar selamat dari terpaan badai topan pertanyaan, "kapan nikah?" -lah muasal bencana sebenarnya. Atau berkelit dengan alasan "asal orang tua bahagia." Semua bermula dari diri sendiri, berkaca dan bertanyalah, menikah untuk membahagiakan diri atau orang lain?

Aku bukan orang yang menampik usulan menikah dengan laki-laki, tapi bukan untuk menyelamatkan muka atau demi orang lain. Aku orang yang punya cita-cita menjadi bahagia, bukan sekedar mimpi. Bahagia tidak terikat pada unsur perempuan atau laki-laki. Bahagia sering kali diwujudkan secara sederhana dengan senyuman.

Tersenyumlah untuk sebuah jawaban yang sederhana, sedikit rumit atau luar biasa membingungkan. Pernikahan adalah sesuatu yang penuh kejutan dan rahasia: dengan siapa, kapan dan di mana. Kulumlah sebutir senyum untuk pertanyaan, "kapan nikah?" -mu sambil ucapkan mantra dalam hati: I have secrets, I won't share.

Selasa, 04 September 2012

oh.my.ro

sebut saja namanya ro.
dan, ya ampun, betapa patah hatinya aku sepuluh tahun lalu karena perempuan ini.

"i took this love and i took it down
i climbed the mountain and i turned around
and i saw my reflection in the snow-covered hills
where the landslide brought me down"

kenapa, ya, lagu country selalu terkesan sedih buatku. saat mendengar lagu ini di glee, aku sudah menyangka pasti menyebalkan. sebab senantiasa akan terngiang-ngiang di telingaku dan menjadi theme laguku saat patah hati. kalau orang jaman sekarang bilang lagu galau. radio galau yang kuputar terus menerus, ya, hampir pasti lagu janra ini sambil menangis bombay. aku masih ingat hingga september tahun ini, betapa "hilangnya" aku saat itu. karena ro.

"...what is love?
can a child within my heart rise above?"

beberapa hari setelah perpisahan smu, aku mengunjungi kamar asrama ro, yang sudah ditinggalkan pemiliknya kembali ke kampung halaman. merekam tiap detil kamar yang ia tinggali selama setahun, yang merekam suara ro di dindingnya, seakan-akan saat itu suaranya diperdengarkan kembali padaku. dan airmataku terurai, mengingat waktu tiga tahun di mana aku bisa leluasa melihat ro kini telah hilang.

"can i sail through the changing ocean tides?
can i handle the seasons of my life?
i dont know"

sepuluh tahun lalu, aku berada di awal semester ganjil pertama di kehidupan kuliahku. rasanya menangis darah. belajar berteman dengan orang-orang yang tak pernah kutemui, tak satupun teman smu ku satu kampus apalagi satu jurusan. beberapa wajah kukenal saat mengikuti kursus di lembaga bimbingan belajar saat kelas tiga dulu. adaptasi adalah satu keharusan, padahal aku tahu kalau aku sedang ingin sendiri. pada akhirnya memang aku cuma punya dua orang teman di antara dua ratus lima puluh mahasiswa yang satu jurusan. sampai semester lima baru aku menambah beberapa lagi.

"well, ive been afraid of changing
coz ive built my life around you"

saat beranjak masuk kelas tiga smu aku memang begitu takut dengan masa depan. bukan tentang ujian nasional maupun ujian masuk perguruan tinggi, aku takut akan masa depan tanpa ro. di akhir kelas dua aku mulai menerima diri bahwa aku punya perasaan khusus padanya. perasaan yang aku tak mau tahu namanya apa. i dont know much but, that maybe all i need to know. itu juga mungkin ditambah dengan terpisahnya kelas kami, aku tidak bisa lagi sembarang curi pandang ke arahnya, setelah kami selalu satu kelas di kelas satu dan dua. perubahan awal yang membuatku takut pada perubahan-perubahan berikutnya, akankah ro satu kampus bahkan satu jurusan denganku selepas smu nanti? akankah semua tetap sama? akankah ini, akankah itu, yang tidak mengandung perubahan.

"but, time makes you bolder
children get older
and im getting older, too"

tapi waktu terus berjalan, kan? meski kita terluka, meski kita menangis. time heals all wound and it makes a new one. jauh dari dalam hatiku sejalan makin menuanya semesterku, aku masih berharap aku punya cerita dengan ro. cerita seperti dalam novel cinta yang berakhir bahagia. bahwa ia menerima cintaku dan juga mencintaiku apa adanya. jauh dari lubuk hati aku masih bernestapa, mungkinkan ia cinta pertama?

"so, take this love and take it down
if you climb a mountain and you turn around
and if you see my reflection in the snow-covered hills
where the landslide brought me down
well, maybe the landslide will bring you down"*

dan aku berharap suatu hari nanti ia tahu bahwa aku memiliki rasa kepadanya. tapi itu dulu.

*lagu landslide

Senin, 02 Juli 2012

sepuluh tahun lagi

Seringkali saat aku mengatakan bahwa aku tidak tertarik dengan komitmen. Aku hampir-hampir setuju dengan Bilangan Fu milik Ayu Utami tentang mengerikannya hubungan dengan perempuan, walau gambaran Utami lebih membuat bulu kudukku merinding (selain mengerutkan kening).

Jadi, perjalananku dengan partner selama 6 tahun ini membuatku lumayan heran, apa yang membuatku mau menghabiskan masa mudaku dengan setia kepada partner?

Mulai dari usia sepertiga awal dua puluhanku sampai sepertiga akhirnya, banyak peristiwa, ada yang sedih, banyak yang gembira, kadangkala datar. Begitu menghindari komitmen, aku sampai bilang pada partnerku di awal perjalanan kami, jika sepuluh tahun lagi dia masih mencintaiku, aku pasti akan kembali padanya (jika kami waktu itu sudah putus). Dengan syarat dia mengirimiku tiket ke Bali untuk menjumpainya di sana (aku berniatan awal untuk lari sementara dari pekerjaanku, apapun kerjaku sepuluh tahun yang akan datang, dengan tiket gratisan ke Bali dari partner -aku yakin dia tidak keberatan).

Aku tertawa dalam hati, dengan cowok aku bisa bertahan tujuh tahun, dengan cewek sebelumnya cuma satu setengah tahun, tentu aku pesimis dengan hubungan sesama perempuan. Pesimis dan ogah berkomitmen, untuk apa menghabiskan waktu menepati janji pada seseorang yang tidak ada di masa depan kita?

Tapi jangan pikir aku akan menulis tentang aku dengan partner. My relationship is something I don't want anyone to interfere. Hanya saja aku menekankan kata "sepuluh tahun lagi" yang kuterapkan pada partner, yang akan kujadikan pokok tulisan.

Bermula dari seorang, yang kuduga lesbian, datang bersama ibunya ke ruang Triage sebuah rumah sakit. Usianya barangkali dua puluh satu, dengan keluhan panas badan. Saat memeriksa nadi di pergelangan tangan, kulihat beberapa bekas luka di sana. Percobaan bunuh diri. Ibunya sedang bicara dengan dokter ketika kudekati dia, kubalik tangannya hingga telapak menghadap ke atas, kuraba jaringan parut miliknya. Dia tertegun. Aku seksama mengamati luka lamanya yang kehilangan warna, bertanya padanya lewat tatapan. "Sayang, apa yang kau lakukan pada dirimu sendiri?" bisik mataku pada matanya, bibirku melengkung sedih. Aku seperti merasakan dia perlahan membuang nafas yang tak sengaja tertahan.

Mereka yang datang ke sini kebanyakan ingin hidup lebih lama, ingin mengembalikan tubuh ke fungsi semula dengan berbagai cara. Beberapa datang dengan sia-sia, beberapa datang dengan menyia-nyiakan hidupnya. Aku terperangkap menjadi sosok yang dipercaya manusia menjadi perpanjangan tangan Tuhan, menyelamatkan manusia lain. Sementara jauh dalam hatiku, aku tahu aku mungkin melakukan hal sebaliknya.

Begitu heran dengan anggapan apa-apa yang dilakukan sosok-sosok yang berprofesi mirip denganku adalah sosial, sementara aku sering memalingkan muka dari kata "tolong". Aku tak menuntut ilmu dari belas kasihan orang lain, kadang mereka memaki bahkan meminta pertanggungjawaban saat aku salah, apa aku tak layak melayani mereka dengan ketus? Jangan harap aku berpikir pembeli adalah raja.

Tapi hatiku lebih cerdik rupanya dari otakku. Dasar perempuan. Ternyata 80% mereka 'sembuh' dengan senyuman, perhatian dan pengertian. Dengan formula itu, kerumitan tak lagi panjang. Jadi aku berniat menerapkan formulasi yang sama pada perempuan di Triage ini.

Perempuan, berapa banyak yang berpikiran untuk menghabisi diri sendiri, bukan cuma melukai? Aku jadi salah satu yang akan tunjuk tangan bila seseorang bersedia memanggil nama melakukan presensi. Akan kujadikan diriku contoh sempurna perempuan yang terbelit-belit dalam lingkaran abu-abu yang tak hanya punya satu degradasi warna. Malaikat, lesbian, anak perempuan yang bermuka dua, malaikat maut, fobia komitmen tapi begitu mencintai pasangan, perusak persahabatan dan perebut istri orang. Itu hanya sebagian kecil, percayalah. Dan bila sepuluh tahun yang lalu aku memutuskan untuk mengakhiri perjalanan hidupku di dunia, aku takkan tahu jadi apa aku dalam sepuluh tahun kemudian.

Sepuluh tahun lalu, mengetahui aku jatuh cinta pada sesama perempuan, menghadapi ujian masuk perguruan tinggi padahal aku tak tahu jurusan apa yang kumau, mendapati teman-teman sibuk menjalani hidupnya sendiri selepas sekolah menengah, mendengar setiap hari tentang keinginan ini-itu orang tua dan orang-orang dekat, membiarkan orang lain memutuskan jalan untukku, takut akan masa depan, berkali-kali bertanya sendiri "mau dibawa ke mana hidupmu, n1n?", dan tak punya satupun teman dekat untuk berbagi membuatku berpikir bahwa bunuh diri adalah jawaban tepat untuk semua pernyataan remuk redamnya hati di atas. Dan sepuluh tahun setelahnya kudapati itu adalah perbuatan yang konyol karena aku punya segalanya di usia ini.

Itulah form berikutnya yang akan kubisikkan dengan hati-hati, dengan segenap perhatian, pengertian dan sedikit senyum kecil dibalut keprihatinan kepada perempuan yang kuduga lesbian itu, "Apapun yang terjadi pada hidupmu, semenakutkan apapun ke depannya, seburuk apapun situasinya, sepatah hati apapun perasaanmu dan sebahagia apapun yang kau rasakan, berjanjilah memberi dirimu sendiri waktu sepuluh tahun lagi, sebelum menarik pelatuk menembak diri sendiri atau mengiris nadi."

Sebab sepuluh tahun yang lalu, akulah perempuan di Triage itu.

jalanan, n1nna...

aku mulai merasa, semakin hari aku mendekati saat membuat keputusan penting dalam hidupku. sesuatu yang selalu bisa kuhindari, selalu bisa aku berlari dari, sekarang kusadari betapa pentingnya ia untuk menjadi pijakan masa depanku. dan aku menangis jauh sebelum aku sampai di persimpangannya.

itulah, aku selalu takut dengan masa depan.

aku tak takut tantangan, ada mantera "ini pasti akan terlewati juga" yang bisa kuulang-ulang dan terbukti khasiatnya, yang membantuku melewati hari satu-satu. berhari-hari kunyanyikan big girls dont cry, 

"The path that I'm walking
I must go alone
I must take the baby steps 'til I'm full grown"

berulang-ulang sampai hatiku pedih dan menangis, dengan aroma pengakuan bahwa aku harus membuat keputusan cepat atau lambat di persimpangan itu nanti.

TIME MAKES YOU BOLDER,
CHILDREN GET OLDER
AND I'M GETTING OLDER, TOO.

ya, akupun menua pada akhirnya, membawaku pada persimpangan yang selalu kujauhi.

berkali-kali mengulang serial glee dan mendapatiku berperang batin yang sama, mau dibawa ke mana hidup kita? quo vadis, n1nna? akan berkembang menjadi seperti apa lagi, hey, diriku sendiri?

so much to learn, so much to try


Tuhan, tahu apa aku tentang masa depan?

"Where shall I go? To the left where nothing's right or to the right where nothing's left?"